Merebut Definisi ‘Asli’ dan Agensi melalui Fanfiction

Penulis: Refina Anjani Puspita
Editor: Alfredo Putrawidjoyo

Ketika dunia bergerak menjadi lebih digital dan interaktif, fandom menjadi kepingan penting dalam mempertahankan relevansi sebuah produk media. Kasus ini tercermin secara khusus dalam fenomena kebangkitan situs web AO3 (Archive of Our Own), yang berfungsi sebagai titik temu bagi penggemar untuk berbagi, bertengkar, bertukar pikiran, dan saling mendukung interpretasi satu sama lain tentang sebuah karya media melalui penulisan fanfiction atau fiksi penggemar. Fanfiction, atau fanfic, adalah karya tulis kreatif yang ditulis oleh penggemar acara TV, film, novel, dan video game. Komunitas kreatif disebut “fandom”. Para penggemar biasanya mengunggah fanfic milik mereka di situs web dalam ranah internet. Tiga perpustakaan internet paling populer menyimpan arsip fanfic ini diantaranya AO3, FanFiction.net, dan Wattpad. AO3 sejauh ini merupakan situs yang paling populer. AO3 pula satu-satunya situs yang tetap setia pada misi awalnya dengan tetap beroperasi layaknya perpustakaan nirlaba, bukan situs media sosial dengan model bisnis yang bertumpu pada jumlah klik dan engagement.[i]

Per 2 Mei 2023, AO3 menampung 11.050.000 karya fanfic dari 57.840 fandom.[ii] Demografi AO3 sebagian besar terdiri dari perempuan muda dengan bakat menulis ribuan halaman cerita fanfic.[iii] Fanfic memberikan ruang para perempuan muda tersebut untuk bereksperimen dengan karakter, skenario, dan dialog karakter-karakter yang mereka gemari. Hobi ini turut pula membangun solidaritas antarpenggemar di dalam fandom. Melalui fanfic, penggemar dapat mengontrol narasi tentang karakter atau selebritas sesuai dengan imajinasi mereka sendiri.

Namun, agensi baru milik perempuan muda tersebut tidaklah berdiri tanpa hambatan. Pada tahun 2021, sebuah kontroversi muncul tentang seksualisasi idola K-Pop pria di fanfic AO3. Saat petisi meningkat menjadi berjumlah 161.906 tanda tangan, netizen mempertanyakan apakah fanfic tersebut dapat dianggap sebagai bentuk kejahatan seks digital.[iv] Sejak saat itu, stigma komunitas obsesif melekat pada fandom K-Pop.

Stigma ini tidak hanya dirasakan oleh fandom K-Pop. Satu dekade yang lalu, fanfic Twilight dan Justin Bieber–mayoritas ditulis oleh perempuan muda pula–menerima sentimen serupa. Dunia kembali menunjukkan bahwa norma dan ekspektasi gender mendasari asumsi umum tentang kesopanan perempuan dalam menampilkan hasrat kolektif mereka. Narasi hasrat, dan persahabatan wanita telah lama dianggap sepele ataupun berbahaya.[v] Tulisan ini berniat membahas dua cara fandom yang didominasi perempuan merebut kepemilikan kesukaan dan hobi mereka dengan menulis fanfic, kemudian membangun komunitas tersebut di ranah dunia maya.

Pertama, dengan mengubah definisi norma keaslian produk media. Fandom mengubah pembacaan media tertentu yang pada dasarnya adalah pengalaman terisolir seorang individu menjadi proyek penulisan kolektif di mana setiap orang memiliki pendapat yang setara. Dengan membangun komunitas di dunia maya, fandom secara aktif membuat dan memperbaharui produk media. Praktik tersebut mengaburkan batas antara apa yang dianggap asli dan palsu. Melalui situs web seperti AO3, fandom mempublikasikan karya mereka di bawah perlindungan hak cipta, yang dapat dibaca, “disukai”, dan dikomentari oleh siapa pun.[vi] Kepemilikan kolektif di antara penggemar ini menggeser ‘kepemilikan’ cerita dan karakter dari produsen korporat ke komunitas konsumen.

Produser korporat besar telah merasakan kekuatan disruptif fandom tersebut. Pada tahun 2019, sebagai tanggapan atas tingginya jumlah fanfiksi tentang BTS, Big Hit Entertainment – perusahaan produksi BTS – merilis buku ‘fiksi’ dengan karakter anggota boyband-nya. Meskipun buku tersebut diminati, fandom di dunia maya tidak patah semangat untuk terus menulis fanfic. Skala produksi dan popularitas buku BTS tidak seberapa dibandingkan dengan 195.000 arsip fanfic BTS di AO3.[vii] Keputusan penggemar BTS untuk terus membaca fanfic di AO3 masuk akal mengingat harga eceran buku BTS berada di kisaran $35,99 (Rp. 533.000,00), sedangkan fanfic dapat dibaca tanpa membayar sepeser pun.[viii]

Ada dua implikasi yang muncul dari dinamika di atas. Pertama, konsumsi memicu produksi, dan membaca menghasilkan tulisan sampai istilah-istilah tersebut tidak dapat dipisahkan secara logis.[ix] Mengaburkan garis antara aspek-aspek ini berarti penggemar tidak lagi terisolasi dari proses produksi makna media mereka. Kedua, sebuah keaslian sebuah produk media tidak lagi ditentukan oleh seniman atau produsernya saja, tetapi juga fandomnya. Fanfic telah secara efektif mendemokratisasi akses hiburan, di mana setiap orang tidak harus memenuhi permintaan keuangan artis atau produser korporat untuk menikmati sebuah produk media. Lewat komunitas fanfic pula, wanita muda dapat mengasah keterampilan menulis, mengekspresikan identitas, membangun komunitas, dan bersenang-senang.

Kedua, dengan memperkuat agensi mereka. Salah satu alasan fanfic begitu dicemooh adalah demografinya yang didominasi oleh wanita muda dengan hobi menulis cerita seksi tentang pria. 161.906 tanda tangan netizen yang disebutkan sebelumnya menguatkan asumsi ini. Tulisan ini berpendapat bahwa fanfic telah berperan sebagai ruang aman bagi penggemar wanita untuk mengekspresikan dan menafsirkan kepedihan, hasrat, dan kesenangan mereka. Ekspresi perasaan ini biasanya tidak mendapat tempat di dunia nyata.[x] Dalam prosesnya, fanfic juga menjadi tempat perlindungan bagi mereka yang telah diasingkan oleh masyarakat atas dasar ekspresi gender, ras, atau kelas, seperti komunitas LGBTQI+, untuk melakukan hal yang sama.[xi]

Dengan menulis fanfic, fandom dapat menukar komoditas media yang diproduksi secara komersial dengan bacaan yang mencerminkan pengalaman dan keluhan sosial mereka. Fanfic kemudian berfungsi sebagai ruang di mana norma dan ekspektasi gender seputar rasa sakit dan kesenangan ditafsirkan, ditolak, atau diterima di ranah publik. Sebagai sebuah komunitas, fandom memiliki kuasa untuk menentukan mana yang boleh ditampilkan dan dinikmati.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa fanfic berfungsi sebagai tempat penggemar, terutama penggemar wanita, memodifikasi bacaan dan kenikmatan mereka terhadap sebuah media menjadi sebuah aktivitas di mana aturan dan norma dipatuhi untuk dan oleh mereka. Dengan mengaburkan persepsi ‘pemilik’ sebenarnya dari media atau seni, kegiatan penafsiran media berubah menjadi gerakan pemberdayaan kolektif. Fanfic juga berfungsi sebagai landasan bagi penggemar wanita untuk berdiskusi tentang rasa sakit dan hasrat mereka, ruang yang biasanya hanya disediakan untuk pria. Fanfic telah menjadi oase untuk para penggemar wanita dengan menyediakan ruang yang aman bagi mereka untuk mengekspresikan kesukaan dan membangun komunitas di dunia maya. Lagipula, dari sudut pandang praktis, lebih hemat membaca fanfic berkualitas bagus, dikembangkan secara kolektif, gratis daripada buku prekuel baru mahal yang diproduksi oleh penulis ‘aslinya’.


[i]  Martinez, K. (2023) An AO3 algorithm would be horrible, actually, Wired. Available at: https://www.wired.com/story/aoc-fanfiction-algorithms/ (Diakses pada: 09 Mei 2023).

[ii] AO3 (2023) Archive of our own beta, Home | Archive of Our Own. Available at: https://web.archive.org/web/20230502083007/https://archiveofourown.org/ (Diakses pada: 09 Mei 2023)

[iii] Busse, K. (2017) Framing fan fiction: Literary and social practices in fanfiction communities. Iowa City: University of Iowa Press.

[iv] Germaine-Jay (2021) Controversy brews over sexualization of male K-pop idols in fanfics, allkpop. allkpop. Available at: https://www.allkpop.com/article/2021/01/controversy-brews-over-sexualization-of-male-k-pop-idols-in-fanfics (Diakses pada: 15 April 2023).

[v] Penny, L. (2019) We can be heroes: How the nerds are reinventing pop culture, Wired. Conde Nast. Available at: https://www.wired.com/story/culture-fan-tastic-planet-fanfic/ (Diakses pada: April 15, 2023).

[vi] Risch, J. (2022) Not just lustful literature: Self-liberation through fanfiction, Rhetorikos. Available at: https://rhetorikos.blog.fordham.edu/?p=1712 Diakses pada: 09 Mei 2023)

[vii] AO3 (2023a) Archive of our own beta, 1 – 20 of 195,193 Works in 방탄소년단 | Bangtan Boys | BTS. Available at:https://archiveofourown.org/tags/%EB%B0%A9%ED%83%84%EC%86%8C%EB%85%84%EB%8B%A8%20%7C%20Bangtan%20Boys%20%7C%20BTS/works (Diakses pada: 09 Mei 2023).

[viii] Amazon.com : BTS bangtan boys – [花樣年華 the notes 1] the most beautiful … (no date). Available at: https://www.amazon.com/BigHit-Ent-BTS-Bangtan-Boys/dp/B0832Q3B38 (Diakses pada: 14 April 2023).

[ix][ix] Jenkins, H. (1988) “Star Trek rerun, reread, rewritten: Fan writing as textual poaching,” Critical Studies in Mass Communication, 5(2), pp. 85–107. Available at: https://doi.org/10.1080/15295038809366691.

[x] Devlin, H. (2022) Orgasm gap: How Hollywood and science neglected female pleasure, The Guardian. Guardian News and Media. Available at: https://www.theguardian.com/society/2022/jun/11/orgasm-gap-how-hollywood-and-science-neglected-female-pleasure (Diakses pada: 14 April 2023).

[xi] Penny, L. (2019) We can be heroes: How the nerds are reinventing pop culture, Wired. Conde Nast. Available at: https://www.wired.com/story/culture-fan-tastic-planet-fanfic/ (Diakses pada 15 April 2023).