Electronic Vehicle (EV) dan Ketimpangan Utara–Selatan: Antara Green Technology dan Digital Power 

Penulis: Rivadeneira Desthy Novarina Ramadanti
Editor: Ayom Mratita Purbandani

Transformasi digital telah menjadi kunci perkembangan dunia saat ini. Secara konseptual, transformasi digital tidak hanya berarti digitalisasi layanan atau bisnis, tetapi perubahan mendasar yang menata ulang proses produksi, distribusi, dan konsumsi dengan teknologi digital sebagai “tulang punggung”.1 Sementara itu, keberlanjutan didefinisikan secara sosio-ekologis, yaitu upaya memenuhi kebutuhan generasi sekarang tanpa mengorbankan kemampuan generasi mendatang, yang mencakup keadilan sosial, kelestarian lingkungan hidup, dan keberlanjutan ekonomi secara seimbang, yang mensyaratkan penggunaan sumber daya secara bijaksana dan adil.

Dalam konteks ini, konsep digital power menjadi relevan. Digital power mengacu pada kemampuan aktor–negara atau perusahaan–untuk mengendalikan teknologi, data, dan infrastruktur digital dalam rangka memperkuat dominasi politik dan ekonomi.2 Dalam Electronic Vehicle (EV), digital power memanifestasikan dirinya dalam kontrol atas data mobilitas, desain perangkat lunak, dan standar teknologi yang menentukan siapa yang menjadi produsen utama dan siapa yang hanya menjadi konsumen atau penyedia bahan baku. Maka, transformasi digital memerlukan lebih dari sekadar efisiensi; transformasi digital juga berfungsi sebagai sarana kekuatan global yang memperkuat ketidaksetaraan yang sudah ada sebelumnya dalam format baru.

Transformasi digital, dalam hal ini, berperan penting dalam mendukung keberlanjutan, terutama melalui sektor kendaraan listrik. Mobil listrik sering kali dipromosikan sebagai solusi berkelanjutan untuk mengurangi emisi karbon. Namun, pada praktiknya, EV juga mencerminkan ketidaksetaraan struktural antara negara-negara di Global North dan Global South dalam hal penguasaan teknologi, rantai pasokan mineral (lithium, cobalt, dan rare earth elements), dan kontrol data digital. Global North mempertahankan posisi dominan dalam membentuk wacana keberlanjutan digital, sementara Global South sering kali mengambil peran pasif, terutama sebagai penyedia bahan mentah atau sebagai tujuan barang jadi.

Ketimpangan Global dalam Transformasi Digital dan Adopsi Kendaraan Listrik

Transformasi digital dan keberlanjutan merupakan dua konsep yang saling berkaitan. Keberlanjutan menekankan pemanfaatan sumber daya secara bijak serta kolaborasi lintas aktor, sementara transformasi digital berkontribusi melalui efisiensi energi dan material. Teknologi seperti Internet of Things (IoT), sensor pintar, dan kecerdasan buatan memungkinkan terciptanya sistem mobilitas yang hemat energi dan responsif.3 Dalam konteks ini, EV menjadi produk nyata transformasi digital yang mendukung keberlanjutan, dengan potensi pengurangan emisi karbon hingga 60–68% sepanjang masa pakainya.4

Pertumbuhan pasar EV menunjukkan tren positif, di mana penjualan global mencapai 17 juta unit pada 2024, meningkat 25% dari tahun sebelumnya, dan diperkirakan mewakili 20% dari seluruh penjualan mobil baru.5 Meskipun negara-negara Global North masih mendominasi, negara Global South seperti Indonesia dan India mulai menunjukkan peningkatan signifikan. Di Indonesia, penjualan EV naik tiga kali lipat dengan dukungan insentif fiskal dan pembebasan pajak impor. Sementara, di India, lebih dari 100.000 unit EV terjual pada 2024,6 mayoritas dalam bentuk kendaraan roda dua dan tiga, yang lebih terjangkau bagi masyarakat menengah ke bawah.7

Studi tentang EV di Amerika Latin menampilkan dinamika yang kompleks. Brazil mencatat hampir 125.000 unit EV terjual pada 2024, sebagian besar diimpor dari Cina. Pemerintah Brazil menghadapi dilema antara akselerasi adopsi dan pengurangan ketergantungan impor, meskipun produsen Cina seperti BYD berencana memproduksi lokal mulai 2025.8 Negara kecil seperti Uruguay9 dan Kolombia10 juga mulai mendorong adopsi EV melalui insentif dan integrasi dalam transportasi publik, meski pangsa pasarnya masih kecil—dengan persentase masing-masing 1,2% dan 4,5%.11

Adopsi EV melibatkan peran penting pemerintah, perusahaan, dan masyarakat. Pemerintah menyediakan regulasi dan insentif, perusahaan mengembangkan teknologi dan rantai pasok, dan masyarakat berperan sebagai pengguna. Terlepas dari kolaborasi peran-peran tersebut, tantangan tetap besar, terutama di negara-negara Global South, yang menghadapi keterbatasan infrastruktur, ketergantungan pada impor baterai, serta kesenjangan digital dan ekonomi. Sementara Global North mengedepankan model teknokratis dan korporasi besar, banyak negara Global South lebih menekankan adaptasi lokal, inklusivitas, dan pemberian insentif. Seperti misalnya, negara seperti India dan Indonesia telah mengembangkan strategi EV berbasis skuter listrik dan kendaraan kecil sebagai bentuk adaptasi yang sesuai dengan kebutuhan dan daya beli lokal.

Di samping itu, ketimpangan infrastruktur bukan satu-satunya masalah utama dalam adopsi EV di negara-negara Global South. Justru, produksi EV sangat bergantung pada rantai pasok mineral strategis seperti lithium, kobalt, dan rare earth elements, yang diekstraksi dari negara-negara Selatan dengan biaya sosial dan ekologis yang besar. Penambangan bahan-bahan ini kerap menimbulkan konflik lahan, polusi berat, serta praktik kerja yang tidak manusiawi, sehingga memperjelas bahwa di balik narasi hijau, transisi EV tetap mereproduksi ketimpangan lama, di mana negara Global South menyediakan sumber daya mentah dengan dampak lingkungan dan sosial yang besar, sementara nilai tambah ekonomi dan penguasaan teknologi tetap terpusat di negara Global North.

Strategi dan Perbandingan Perkembangan EV di Cina dan Amerika Serikat

Cina kerap diposisikan sebagai bagian dari Global South, tetapi dalam industri EV, perannya menunjukkan karakteristik negara industri besar yang berpengaruh secara global. Perkembangan pesat industri EV di Cina dimulai sejak pendirian Electric Vehicle Institute of China Electrotechnical Society pada 1987, diikuti kebijakan mendukung sepeda listrik pada 1990-an yang mempercepat adopsi masyarakat, meskipun sempat dibatasi di beberapa kota karena alasan keselamatan. Pemerintah pusat kemudian merespons dengan kebijakan yang memperbolehkan penggunaan sepeda listrik dengan batas kecepatan tertentu dan terus memberikan insentif, mendorong pembelian sekitar 100 juta unit dalam satu dekade terakhir—melebihi akumulasi penjualan di negara lain.

Kebijakan nasional seperti Auto Industry Adjustment and Revitalization Plan menjadi tulang punggung strategi Cina, meski efektif terutama dalam mendongkrak penjualan dibandingkan penyebaran penggunaan yang merata.12 Strategi keberlanjutan Cina menekankan kolaborasi erat pemerintah dan industri untuk menciptakan kendaraan terjangkau bagi kelas menengah ke bawah, sekaligus membangun ekosistem produksi yang memperkuat dominasi Cina dalam teknologi baterai dan rantai pasok global. Namun, refleksi kritis penting di sini: dominasi rantai pasok ini turut mengeksternalisasi biaya ekologis dan sosial ke negara lain penghasil bahan baku utama, sehingga menimbulkan ketimpangan serupa yang dihasilkan oleh negara-negara Global North.

Sementara itu, di Amerika Serikat, EV telah mencapai tahap mainstream, terlihat dari peningkatan signifikan penetrasi pasar.13 Strategi AS lebih menonjolkan pendekatan berbasis pasar dan inovasi swasta, dengan Tesla sebagai aktor utama yang mengandalkan promosi digital agresif serta interaksi langsung melalui media sosial, yang memungkinkan pembaruan teknis secara daring lewat sistem IoT. Rezim teknologi di AS cenderung liberal, menekankan kompetisi antar perusahaan, sedangkan Cina menerapkan pendekatan state-led capitalism yang terintegrasi antara negara dan industri.

Meski demikian, Cina tetap unggul dalam skala pasar, di mana pada tahun 2022, sekitar 60% penjualan EV global terjadi di Cina, yang juga mengekspor 35% produksi EV global, dengan pertumbuhan domestik mencapai 82%. Produsen seperti BYD bahkan menyalip Tesla dalam penjualan pada kuartal keempat 2023. Perbedaan regime ini tampak jelas: sementara Tesla fokus pada pasar konsumen individu, produsen Cina seperti BYD dan Geely memulai dengan kendaraan publik seperti bus listrik, bekerja sama dengan pengemudi taksi untuk memastikan ketersediaan infrastruktur pengisian daya, dan secara aktif mengatur jadwal penggunaan. Strategi ini didukung penguasaan teknologi baterai dan kontrol atas rantai pasok, yang membuat Cina bukan hanya kompetitif tetapi juga menentukan lanskap industri EV global.14

Kesimpulan

Transformasi digital memiliki peran strategis dalam mendukung keberlanjutan, terutama melalui pengembangan EV yang lebih efisien dan rendah emisi. Namun, transisi ini masih jauh dari merata. Negara-negara Global North tetap mendominasi teknologi, rantai pasok, dan narasi keberlanjutan, sementara negara-negara Global South menghadapi tantangan serius terkait infrastruktur, kapasitas teknologi, dan ketergantungan pada impor. Meski demikian, Cina berhasil menunjukkan model keberhasilan melalui kolaborasi erat antara pemerintah dan industri lokal, yang mendorong adopsi EV secara lebih luas, meski juga menimbulkan pertanyaan baru tentang eksternalitas biaya sosial dan ekologis ke negara-negara lain.

Beberapa negara Global South lain seperti Indonesia, India, dan Brasil mulai menampilkan kemajuan adaptif melalui strategi yang menyesuaikan kebutuhan lokal. Namun, agar transformasi digital benar-benar mendukung keberlanjutan yang adil, perlu ditegaskan pentingnya keadilan teknologi—yakni memastikan bahwa manfaat teknologi tidak hanya terpusat pada aktor dominan, tetapi juga memperhatikan hak-hak aktor yang terlibat dalam rantai pasok, terutama di wilayah industri ekstraktif yang menyuplai bahan baku penting seperti lithium dan kobalt. Keadilan teknologi, dalam hal ini, menuntut agar proses produksi tidak menimbulkan beban sosial dan ekologis yang timpang, serta menempatkan keberlanjutan lingkungan, kesejahteraan komunitas lokal, dan kedaulatan atas data sebagai prinsip utama. Keberhasilan transformasi digital ke depan hanya mungkin tercapai melalui pendekatan kolaboratif yang sensitif terhadap ketimpangan dan kontekstual terhadap kondisi lokal, sehingga transisi hijau digital tidak lagi menjadi instrumen reproduksi ketidakadilan, melainkan benar-benar mendukung kesejahteraan bersama secara global.


Referensi

1 Schilirò, D. (2023, July 1). Digital platforms and digital transformation. Mpra.ub.uni-Muenchen.de. https://mpra.ub.uni-muenchen.de/118006/

2 Noël, J.-C. (2019). What is Digital Power?

https://www.ifri.org/sites/default/files/migrated_files/documents/atoms/files/noel_digital_power_2019.pdf 3 Robertsone, G., & Lapina, I. (2023). Digital Transformation as a Catalyst for Sustainability and Open Innovation. Journal of Open Innovation: Technology, Market, and Complexity, 9(1), 100017. https://doi.org/10.1016/j.joitmc.2023.100017

4 Galst, L. (2023, May 12). Yes, electric vehicles are better for the environment — and answers to more questions about EVs. Vitalsigns.edf.org. https://vitalsigns.edf.org/story/yes-electric-vehicles-are-better-environment-and-answers more-questions-about-evs

5IEA. (2025). Trends in electric car markets – Global EV Outlook 2025 – Analysis – IEA. IEA.

https://www.iea.org/reports/global-ev-outlook-2025/trends-in-electric-car-markets-2

6ibid

7 Dalvi, A. (2025, June 24). Mahindra and Bajaj battle for e-3W top spot in May, new entrant TVS sells 1,582 units. Autocar Professional. https://www.autocarpro.in/analysis-sales/mahindra-and-bajaj-battle-for-e-3w-top-spot-in may-new-entrant-tvs-sells-1582-units-126800

8IEA. (2025). Trends in electric car markets – Global EV Outlook 2025 – Analysis – IEA. IEA.

https://www.iea.org/reports/global-ev-outlook-2025/trends-in-electric-car-markets-2

9 Moore, P. (2022, April 19). In Uruguay, greening transport is the next stage of the energy transition. Dialogue Earth. https://dialogue.earth/en/energy/52958-uruguay-energy-transition-greening-transport-elec tric-vehicles/ 10 Lopez-Arboleda, E., Sarmiento, A. T., & Cardenas, L. M. (2023). Policy assessment for electromobility promotion in Colombia: A system dynamics approach. Transportation Research Part D Transport and Environment, 121, 103799–103799. https://doi.org/10.1016/j.trd.2023.103799

11 BloombergNEF. (2025, February 4). Electric Vehicle Outlook – BloombergNEF. BloombergNEF. https://about.bnef.com/insights/clean-transport/electric-vehicle-outlook/

12 Liu, Y., Zhao, X., Lu, D., & Li, X. (2023). Impact of policy incentives on the adoption of electric vehicle in China. Transportation Research Part A: Policy and Practice, 176, 103801. https://doi.org/10.1016/j.tra.2023.103801

13 Beaumont, H. (2024, May 10). When will EVs become mainstream in the US? Al Jazeera.

https://www.aljazeera.com/economy/2024/5/10/when-will-evs-become-mainstream-in-th e-us

14 Lin, C. (2024, January 3). 3 Drivers of China’s Booming Electric Vehicle Market. Harvard Business Review. https://hbr.org/2024/01/3-drivers-of-chinas-booming-electric-vehicle-market