[SIARAN PERS] Menutup Tahun 2023, CfDS mengeksplor dinamika antara teknologi, masyarakat, dan prediksi perkembangan dunia digital di kehidupan sehari-hari | Difussion #104

Yogyakarta (21/11/23) – Perkembangan teknologi telah mengubah banyak dinamika kehidupan sosial, mempengaruhi bagaimana masyarakat berinteraksi, bekerja, bahkan berpikir. Integrasi ini tentunya membuahkan hasil positif yang tercermin melalui peningkatan di beberapa sektor, seperti komunikasi dan pendidikan. Meskipun demikian, segala kemudahan ini dibarengi dengan tantangan dan risiko. Oleh karena itu, Center for Digital Society (CfDS) UGM sebagai lembaga studi yang memfokuskan diri pada berbagai isu kontemporer dalam bidang digital menghadirkan Difussion #104 bertajuk “State of Arts: Technology and Society”. Diskusi dibersamai oleh Amelinda Pandu Kusumaningtyas (Research Coordinator CfDS) dan Alfredo Putrawidjoyo (Research Officer CfDS) yang dimoderatori oleh Rafly Shofian Noor (Community Outreach Assistant CfDS). Kegiatan ini dapat disaksikan kembali melalui kanal Youtube CfDS https://www.youtube.com/watch?v=P5zbJvNukMo 

Perampasan Hak-Hak Akses Digital

Salah satu tantangan yang dihadapi oleh masyarakat dunia di tahun 2023 adalah pemutusan jaringan internet (internet shutdown) yang berdampak pada 2,5 milyar penduduk dunia. Salah satu negara yang terdampak adalah Ethiopia, khususnya di daerah Amhara yang mengalami pemutusan jaringan komunikasi bersamaan dengan agresi pemerintah terhadap etnis Tigray. Hal ini juga diperparah karena pemerintahan membatasi akses ke aplikasi media sosial terkait dengan konflik Gereja Orthodoksnya. Sementara itu, di Gaza Palestina, Israel juga telah membatasi jaringan internet sejak oktober 2023, mengakibatkan penurunan trafik internet hingga 80% terutama setelah serangan terhadap infrastruktur telekomunikasi dan pemutusan koneksi listrik, mempersulit kelompok rentan untuk berkomunikasi dan mendapatkan bantuan luar.

Di sisi lain, pengakuisisian twitter oleh Elon Musk yang diperkenalkan dengan nama baru, yakni “X” dapat membuat situasi ini semakin parah. Pasalnya, moderasi konten yang semakin longgar dan terdapat replatforming figure kontroversial yang dapat menyebabkan misinformasi. Hal ini sebelumnya sudah diatasi di zaman COVID yang menerangkan apakah informasi tersebut merupakan misinformasi. “Teknologi awalnya dirancang untuk menyelesaikan masalah masyarakat, namun jika berlebihan, bisa menimbulkan dampak negatif. Agar memberi manfaat, teknologi perlu transparan untuk memastikan pemanfaatannya yang tepat”, tutur Amel. 

Relevansi Antara Perkembangan Teknologi dan Kehidupan Masyarakat 

Fenomena sosial tersebut disebabkan karena perkembangan teknologi yang semakin meningkat tiap tahunnya. Hal ini semakin menarik ketika sebuah konsep dari para cendekiawan Jerman menyebutkan bahwa “social innovation re-politicisation Nexus”, menggambarkan bagaimana teknologi digital sering dianggap sebagai inovasi yang kemudian dapat dimanfaatkan dengan lebih efektif. Namun, sayangnya di balik kemajuan ini, muncul tegangan besar antara teknonasionalisme dan perdagangan. Indonesia, misalnya, mengalami dilema besar, yakni keinginan pemerintah yang cukup intens untuk menjadi pasar ASEAN, tetapi di lain sisi Indonesia melakukan kebijakan proteksionis untuk melindungi pasar domestik. Hal ini terlihat dari upaya melindungi kedaulatan digital, seperti sempat terjadinya penutupan TikTok Shop.

Tidak hanya Indonesia, Jerman juga menghadapi dinamika yang mirip antara proteksionisme dan teknonasionalisme. Ini menegaskan bahwa di era globalisasi dan digitalisasi, setiap negara berusaha mempertahankan kepentingan nasional sambil menyesuaikan diri dengan perubahan teknologi global yang dinamis. “Teknologi memiliki dampak signifikan pada berbagai lapisan masyarakat, membawa perubahan positif. Namun, perlu diakui bahwa beberapa negara dengan jelas membatasi akses bagi kelompok tertentu karena alasan kekuasaan dan struktural,” tutur Alfredo saat mengakhiri diskusi.

Penulis: Muhammad Alfasya Syabil Sholatar

Penyunting: Ni Kadek Ayu Pratiwi