Implementasi Teknologi pada Galeri Seni Masa Kini: Apa yang Berubah?

Penulis: Mario Hartanto
Editor: M Perdana Karim

Pandemi COVID-19 yang berlangsung sejak dua tahun yang lalu sedikit banyak mempengaruhi aspek kehidupan kita: mulai dari perilaku, perekonomian, interaksi dengan orang lain, hingga bagaimana kita mempersepsikan budaya dan seni. Hal ini dapat kita lihat pada galeri seni: melalui regulasi pembatasan sosial, banyak galeri yang tutup beroperasi. Data dari International Council of Museums (ICOM) melaporkan bahwa 95% museum di seluruh dunia tutup akibat pandemi[i]. Fenomena ini menjadi tantangan bagi insititusi seni dimana pameran dibatalkan, pemutusan hubungan kerja, hingga karya artis yang terhambat. Menanggapi permasalahan ini, barangkali penggunaan teknologi digital dapat menjadi jawabannya. Pertanyaannya sekarang adalah: bagaimana teknologi membentuk galeri seni di zaman sekarang?

Sejarah dan Pembatasan COVID-19

Siapa yangt sangka bahwa karya seni budaya akan melampaui bentuk materialnya. Secara filosofis, seni dilihat dari kondisi pasca-mediumnya dimana makna karya tidak dilihat dari bendanya saja, tetapi konteks latar dari karya seninya sendiri (Archer, Paul 1997). Maka dari itu, seni cenderung fokus pada bentuk materialnya dan menggunakan museum seni sebagai ruang eksistensi. Akan tetapi, penggunaan teknologi digital telah mengubah praktik seni secar alebih luas dan terhubung. Serota mengidentifikasi bahwa masa depan museum bisa jadi tidak terikat pada bangunan fisiknya, tetapi teknologi yang menghubungkan dengan audiens di seluruh dunia[ii]. Dalam konteks Indonesia sendiri, penggunaan teknologi dan seni sudah dimulai di tahun 1990 melalui karya Krisna Murti yang berfokus pada implementasi media baru seni kontemporer.

Museum seni sendiri mengalami perubahan besar saat pandemic COVID-19. Situasi ini menjadi tidak terkontrol dan banyak negara mengeluarkan kebijakan diam dirumah. Hal ini berimplikasi pada tempat-tempat publik yang ditutup, termasuk museum seni. Laporan dari UNESCO bulan Mei 2020 menyatakan bahwa 90% museum ditutup dan 10% tidak akan dibuka kembali[iii]. Penutupan museum seni ini juga berpengaruh pada turunnya pendapatan hingga 80% dibanding tahun 2019. Di masa orang membutuhkan seni sekarang ini, penggunaan teknologi menjadi lebih masif untuk menyediakan dukungan sosial. Tanpa disadari, kita telah mempercepat laju ekosistem digital dengan memperluas jangkauan seni dan identitas virtual.

Masa Depan Pelestarian Budaya

Selamat datang di era baru! Era dimana museum seni mengalami pergeseran paradigma dari ruang berbasis koleksi menjadi berbasis pengalaman dan partisipasi manusia. Sekarang ini (bahkan sebelum pandemic), museum seni cenderung berfokus pada bagaimana mengemas seni menjadi aktivitas menarik bagi audiens. Sudah menjadi tren bagi museum-museum untuk berkolaborasi dengan seniman digital untuk membangun model museum yang integratif dan inklusif. Contohnya adalah koleksi seni ‘Story of the Forest’ Museum Nasional Singapura yang sudah menjadi koleksi permanen sejak tahun 2016[iv]. Karya seni tersebut menggunakan gambar dari Farquhar dengan sentuhan animasi lingkungan biosfer virtual. Kolaborasi ini membutuhkan waktu hingga dua tahun antara kurator dengan kolektif seni digital Jepang serta aplikasi daring yang terintegrasi.

Perubahan ini terus terjadi di musim pandemi dimana museum-museum mulai menyediakan pengalaman virtual sehingga pengunjung bisa mengunjungi museum dari jauh kapan dan dimana saja. Mereka menggunakan berbagai teknologi seperti kecerdasan digital, realitas digita, hingga kriptokurensi. Perkembangan ini memegang peranan kritis untuk menciptakan ulang ruang fisik menjadi digital. Contohnya adalah Galeri Nasional Indonesia yang menyelenggarakan ekshibisi bauran ‘Affandi: Alam Ruang Manusia’ pada bulan Mei 2020[v]. Pameran ini menggunakan proyeksi video untuk meminimalisir interaksi fisik antara aseniman dan penikmat seni. Pameran bauran ini bahkan dipuji oleh media prestis di Indonesia, Tempo sebagai hal special karena kebaruannya menggabungkan teknologi dengan usaha pelestarian budaya.

Apa Selanjutnya?

Keberhasilan penggunaan teknologi dengan galeri seni menunjukkan tren positif dalam usaha pelestarian budaya. Kita bisa lihat banyak galeri seni lainnya yang berinovasi melalui teknologi dan menciptakan pengalaman yang imersif bagi audiens. Teknologi dapat menyediakan interaksi dan mendukung kebutuhan audiens akan estetika. Lagipula, implementasi teknologi ini dapat menumbuhkan aliran keuntungan baru bagi manajerial museum seni dan pelestarian seni budaya lebih lanjut.


[i] Giannini, T. G., & Bowen, J. (2022). Museums and Digital Culture: From Reality to DIgitality in the Age of COVID-19 . Heritage, 5, 192–214.

[ii] Wands, B. (2017). The engagement of Digital Art with contemporary art. Electronic Workshops in Computing. https://doi.org/10.14236/ewic/eva2017.69

[iii] UNESCO Report: Museums around the World in the Face of COVID-19; UNESCO, May 2020. Available online: https://unesdoc.unesco.org/ark:/48223/pf0000373530

[iv] Firšt, D., & Petljak, N. (2022, January 13). Interactive museum exhibitions – examples and technologies. DITDOT. Retrieved March 18, 2022, from https://www.ditdot.hr/en/interactive-museum-exhibitions-examples-and-technologies

[v] Genia Krishbie, B. (2021). Tantangan Museum Seni di Tengah pandemi Covid-19 Kajian: Pameran Imersif Affandi di GNI, 2020. JSRW (Jurnal Senirupa Warna), 9(2). https://doi.org/10.36806/jsrw.v9i2.119