- 24/12/2022
- Category: Commentaries ID
Penulis: Mario Hartanto
Editor: M Perdana Karim
“Taduum”, mungkin kamu sering mendengar suara pembuka ini ketika hendak menonton di Netflix. Di era pandemi ini, banyak orang menggunakan layanan streaming film sebagai sumber hiburan mereka. Saat ini, Netflix menjadi pionir dan mendominasi pasar dengan jumlah pengguna aktif mencapai 222 juta[i]. Banyak kompetitor muncul perlahan-lahan dalam industri hiburan ini, salah satu yang berkuasa adalah Disney+. Artikel ini akan membongkar bagaimana strategi Netflix dan Disney+ dalam menghadapi kompetisi dan menarik perhatian audiens.
Netflix sang Pionir, dan Disney+ sang Revolusioner
Secara global, pasar streaming tahun 2021 mencapai 59,14 Milyar Dollar Amerika dan dipredikasi akan bertumbuh sebesar 21.3 dari tahun 2022 hingga 2030[ii]. Dengan potensi pasar yang besar, banyak industri hiburan berusaha menyediakan layanan hiburan berbasis streaming. Netflix sendiri baru hadir pada tahun 2007 dan mengubah kebiasaan manusia dalam menikmati hiburan: dari yang tadinya menonton di bioskop, sekarang kita mengakses banyak hiburan dari rumah. Cukup membayar biaya berlangganan bulanan, audiens dapat menikmati kurang lebih 3600 film dan 1800 serial televisi di 190 negara.
Disney+ sendiri baru memasuki pasar pada November 2019. Walaupun tergolong baru, dalam kurun waktu tiga tahun Disney+ telah mencapai pertumbuhan massif dengan jumlah pelanggan global 116 juta. Bahkan di Indonesia sendiri, Disney+ memimpin pasar dengan total 2,5 juta pelanggan, mengalahkan Netflix dengan angka penetrasi 850.000[iii]. Pertumbuhan massif ini disebabkan oleh nama Disney yang sudah terkenal sebagai salah satu produser film terbesar di dunia. Melalui Disney+, mereka pun hadir untuk merevolusi konsep bioskop rumah. Menjelang pandemic, banyak bioskop-bioskop tutup dalam jangka waktu yang panjang[iv]. Regulasi ini menyebabkan perusahaan produksi film terpaksa menunda tanggal perilisan filmnya. Akan tetapi, Disney+ melihat kesempatan ini dan membawa pengalaman bioskop kepada audiens melalui Disney+. Bahkan Disney+ menerapkan langkah strategis dengan mengubah format rilis film dari bioskop menjadi eksklusif hanya di platformnya.
Strategi Konten: Keberagaman melawan Permintaan Populer
Secara strategis, baik Netflix dan Disney+ mempunyai caranya tersendiri untuk menghibur audiens. Netflix sendiri merupakan layanan streaming yang berusaha menghadirkan perspektif baru bagi penggunanya. Dalam rangka mencapai tujuan tersebut, Netflix mengkurasi kontennya dengan inklusi dan keberagaman melalui konten orisinilnya. Penelitian dari Universitas Southern California pada tahun 2021 menunjukkan bahwa 52% film dan serial di Netflix memiliki representasi perempuan di dalamnya[v]. Kemudian 35.7% pemeran utama di film-film Netflix juga berasal dari kelompok minoritas seperti individu di luar kulit putih, kelompok LGBTQIA+, orang dengan disabilitas, dan lain-lain. Netflix juga berusaha mendobrak perspektif barat dengan menyasar ke pasar Asia. Cara terampuh Netflix dalam hal ini adalah secara aktif mengadopsi drama-drama Korea di platformnya. Netflix melihat potensi ini dengan beberapa drama Korea popular seperti Squid Game, Business Proposal, Crash Landing on You, dan seterusnya.
Sementara Disney+ memiliki privilese yang besar dari rumah produksinya yang terkenal akan film-film besar. Dengan dukungan pihak lain seperti Marvel, Lucasfilm, dan Pixar, Disney+ memanfaatkan hal ini dengan menyediakan konten film-film ternama yang sebelumnya sudah pernah muncul di bioskop. Strategi ini bertujuan untuk membuat penonton bernostalgia dengan film-film masa lalu. Selanjutnya, Disney+ menawarkan konten-konten ekslusif di platformnya. Jika sebelum pandemic film-film baru Disney akan hadir di Disney+ lima hingga delapan bulan sebelumnya, sekarang hanya membutuhkan waktu 45 hari dari bioskop ke layanan streaming[vi]. Terakhir, dalam rangka menyentuh pasar Asia, Disney+ berkolaborasi dengan Hotstar, layanan streaming dari India. Layanan ini menyediakan serial televisi, film, dan konten informatif dari India dan regional lainnya.
Perbandingan: Harga dan Keuntungan
Secara komparatif, Disney+ memiliki layanan yang lebih murah dibandingkan Netflix. Untuk paket premiumnya sendiri, biaya langganan Netflix mencapai Rp46.500,00 (Harga Rp186.000,00 untuk empat pengguna). Sedangkan layanan Disney+ dibanderol dengan harga Rp39.000,00 per bulannya, bahkan bisa lebih murah jika bayar tahunan dengan harga Rp199.000,00. Selain itu, Disney+ juga menyediakan berbagai promo kolaborasi dengan layanan penyedia internet lainnya. Kendati Disney+ menang soal harga, Netflix memiliki variasi konten yang lebih banyak karena Disney+ lebih berfokus ke konten anak. Disney+ memiliki kurang lebih 1000 serial televisi dan film yang kebanyakan dokumenter maupun film terkenal. Sementara Netflix memiliki variasi konten yang lebih banyak bagi anak-anak, remaja, hingga dewasa[vii]. Di Netflix, pengguna juga dapat menonton film dari Fox, Universal, Showtime, dan lain-lain. Terlepas dari kompetisi antara Netflix dan Disney+, persaingan layanan streaming semakin berkembang dengan adanya teknologi di masyarakat. Pertanyaannya sekarang kembali ke audiens: Hiburan seperti apa yang kamu ingin konsumsi?
[i] Maglio, T. (2022, March 16). As Netflix cracks down on passwords, analysts say it’s running out of its most valuable subscribers. IndieWire. Retrieved April 23, 2022, from https://www.indiewire.com/2022/03/netflix-subscribers-guidance-broadband-cell-phones-1234708470/
[ii] Global Video Streaming Market Share Report, 2030. (n.d.). Retrieved April 26, 2022, from https://www.grandviewresearch.com/industry-analysis/video-streaming-market
[iii] Kalahkan Netflix, Alasan Pelanggan Disney Plus Hotstar Melonjak di Ri. Info Komputer. (n.d.). Retrieved April 2, 2022, from https://infokomputer.grid.id/read/122520147/kalahkan-netflix-alasan-pelanggan-disney-plus-hotstar-melonjak-di-ri
[iv] Harvard, C. T. (2021). Disney, Netflix, and Amazon Oh My! An Analysis of Streaming Brand Competition and the Impact on the Future of Consumer Entertainment. Finding in Sport, Hospitality, Entertainment, and Event Management, 38–45.
[v] Sperling, N. (2021, February 26). Netflix productions are more diverse than studio films, study shows. The New York Times. Retrieved April 26, 2022, from https://www.nytimes.com/2021/02/26/business/media/netflix-diversity-movies-original-series.html
[vi] Barnes, H. (2021, October 7). Disney’s streaming content strategy is winning. Medium. Retrieved April 5, 2022, from https://marker.medium.com/disneys-streaming-content-strategy-is-winning-dbda85950112
[vii] Jackson, K. (2022, March 22). Disney Plus vs. netflix: Which one should you choose? CNET. Retrieved April 6, 2022, from https://www.cnet.com/tech/services-and-software/disney-plus-vs-netflix-how-to-choose-between-both-streaming-services/