“Gaslight, Gatekeep, Girlboss”: Memberdayakan Perempuan (dengan Privilese) Melalui Cryptocurrency

Penulis: Rizka Khairunissa Herdiani
Editor: Jasmine Noor Andhreta Putri

“Capek dengerin cowok-cowok kripto ngejelasin tentang cryptocurrency terus ngambil semua keuntungannya? Nah, saatnya kita cewek-cewek ngambil alih dunia kripto dan dapetin semua cuannya!”

Perbincangan mengenai cryptocurrency di dunia digital mulai naik daun ketika perempuan bergabung dan mengambil alih “the boy’s club’. Dari Katy Perry hingga Reese Witherspoon, para selebriti ini mengajak para perempuan untuk mulai mencoba berinvestasi cryptocurrency. Alasannya? Mereka tidak hanya ingin membangun kesetaraan gender di ruang kripto, tetapi juga mengubahnya menjadi alat pemberdayaan untuk perempuan mengembangkan dirinya secara finansial maupun artistik.

Meskipun premis dibalik promosi ini terdengar seperti pemberdayaan feminis, sifat dibalik hal ini justru keliru dibanding yang diharapkan.

Daya Tarik Dibalik “Pemberdayaan Perempuan” Melalui Kripto

            Sejak kemunculan cryptocurrency, demografi investor kripto sebagian besar didominasi oleh laki-laki. Menurut survei dari Pew Research, laki-laki (22%) sekitar dua kali lebih mungkin untuk menggunakan cryptocurrency dibanding perempuan (10%).1 Namun, seiring berjalannya waktu dan perempuan mulai sadar akan keuntungannya, banyak dari mereka yang mulai perjalanannya dalam berinvestasi kripto dan “mengambil alih ruang”. Penemuan dari Gemini, misalnya, menunjukkan pandangan yang berbeda: kesenjangan gender dalam investasi kripto justru mulai menutup, dengan sebanyak 47% perempuan secara global berencana untuk membeli cryptocurrency di 2022. Selain itu, investasi kripto di Kawasan Dunia Selatan lebih banyak diisi oleh perempuan dibangung mereka di Kawasan Dunia Utara.2

            Sementara untuk benefitnya, cryptocurrency juga bisa menjadi ruang untuk proyek-proyek yang dipimpin oleh perempuan sebagai bentuk untuk mempromosikan keberagaman dan aksesibilitas lebih terbuka bagi keuntungan finansial. Ketika berbicara tentang para individu yang berinvestasi dalam cryptocurrency, banyak yang berasumsi bahwa mereka berasal dari latar belakang kewirausahaan atau sektor keuangan. Realitanya, perempuan dari berbagai latar belakang aktif dalam berinvestasi (atau mengembangkan) kripto. Misalnya, seniman  perempuan mulai menunjukkan talenta mereka melalui minting dan penjualan Non-Fungible Tokens (NFTs) di pasar digital. Alih-alih mengambil semua keuntungannya, beberapa dari mereka menyumbangkannya ke berbagai kampanye dan organisasi keadilan sosial.3 Bagi para “gatekeeper” kripto, selebriti perempuan seperti Paris Hilton dan Reese Witherspoon tidak hanya mendorong para kreator, kolektor, dan investor perempuan untuk berpartisipasi aktif dalam komunitas kripto, tetapi juga menyediakan ruang dan platform untuk menyalurkan talenta dan aspirasi mereka.45 Selain itu, mayoritas perempuan memilih mencoba investasi kripto untuk meningkatkan kesejahteraan keuangan serta menjadi mandiri secara finansial.6 Dalam kata lain, mengajak perempuan untuk berinvestasi dalam kripto dipandang sebagai pemberdayaan dengan mengalihkan profit dari demografi laki-laki ke mereka.

Sumber: Witherspoon, 2021 (https://twitter.com/reesew/status/1467967292927463427)

Kritik Terhadap “Girlbossification” Kripto

            Meskipun responsnya sangat positif, mengajak perempuan untuk ikut dalam “rombongan kripto” terlihat problematik. Alih-alih memberdayakan perempuan, “power move” semacam ini justru dianggap sebagai kebangkitan feminisme neoliberal, atau menurut bahasa gaul Gen Z, “girlbossification”: “memberdayakan” perempuan yang sudah memiliki privilese dan bukan mereka yang termarjinalkan. Maka dari itu, inisiatif mendorong keterlibatan perempuan adalah usaha superfisial yang gagal mempertanyakan atau mendisrupsi dinamika kekuasaan dalam cryptocurrency. Contoh seperti itu dapat dilihat dari investasi berbondong-bondong NFT terkenal Bored Ape oleh para selebriti. Walaupun ada selebriti perempuan sepeti Reese Witherspoon dan Paris Hilton yang mengajak perempuan lain untuk membeli NFT dan berinvestasi kripto, profit yang terakumulasi hanya sekadar “didaur ulang” dalam lingkaran-lingkaran elit.7 8 Pada akhirnya, hal ini menciptakan kembali struktur-struktur kekuasan yang sama sehingga profit yang ada diambil oleh mereka yang berkuasa dan berpengaruh, terlepas dari gender mereka.

Pemetaan “Kompleks NFT Selebriti”, Sumber: Read, 2022

            Berkaitan dengan hal ini, gerakan “perempuan dalam kripto” yang diinisiasi oleh para selebriti perempuan ini hanya berakhir sebagai pemberdayaan performatif belaka karena hanya melayani para perempuan yang memiliki privilese (dan dalam beberapa kasus, yang berpengaruh) sehingga mengesampingkan mereka yang berasal dari komunitas termarjinalkan. Bukannya mengadvokasi akses infrastruktur digital dan literasi keuangan digital yang lebih baik, mereka ironisnya “mempromosikan” pemberdayaan perempuan melalui NFT yang beberapa di antaranya tidak diberi kredit atau dicuri dari seniman lain.9 Dengan demikian, “usaha advokasi” untuk meningkatkan keterlibatan perempuan dalam cryptocurrency kurang lebih sama dengan seakan-akan meneriakkan  jargon “kesetaraan gender” tanpa berpikir terlebih dahulu.

“Jadi, Apakah Itu Berarti Cryptocurrency Bukan Alat Pemberdayaan?”

            Terlepas dari meningkatnya jumlah perempuan yang mulai terlibat dalam investasi kripto dan janji-janji manisnya mengenai kemandirian finansial, hal ini masih belum menjawab pertanyaan mengenai inklusivitas dan efektivitas cryptocurrency sebagai alat pemberdayaan bagi perempuan. Realitanya justru masih jauh dari apa yang dijanjikan oleh perempuan influential seperti para selebriti: mereka yang tidak memiliki privilese finansial justru dipaksa (gaslighted) untuk bergabung dalam investasi kripto meskipun tidak menjamin “keuntungan besar” karena sifatnya yang tidak menentu. Lalu, profit yang dijanjikan sudah diambil dan “dijaga” (gatekeep) oleh mereka sendiri dan mengesampingkan para perempuan yang terperangkap dalam skema “harapan palsu”. Oleh karena itu, menganggap cryptocurrency sebagai alat pemberdayaan perempuan masih sebatas harapan utopis di era teknologi digital.

———————————————————————————————————————

1.  Perrin, A., 2021. 16% of Americans say they have ever invested in, traded or used cryptocurrency. Pew Research Center. Available at: https://www.pewresearch.org/fact-tank/2021/11/11/16-of-americans-say-they-have-ever-invested-in-traded-or-used-cryptocurrency/ [Accessed June 7, 2022].

2.  Gemini, 2022. Global state of crypto report.

3.  Gailey, A., 2022. 6 Women Who Are Changing the Face — and Future — of Crypto. Time. Available at: https://time.com/nextadvisor/investing/cryptocurrency/women-in-crypto/ [Accessed June 7, 2022].

4.  Hilton, P., 2021. NFTs: Why I am excited about NFTS: NFT guide. Paris Hilton. Available at: https://parishilton.com/nft/ [Accessed June 16, 2022].

5. Witherspoon, R. (2021) [Twitter] 7 December. Available at: https://twitter.com/reesew/status/1467967292927463427

6.  Dabranau, A., 2021. Bitcoin under female thumb: Global study of women in the cryptosphere. BDC Consulting. Available at: https://bdc.consulting/insights/cryptocurrency/bitcoin-under-female-thumb-global-study-women-cryptosphere [Accessed June 7, 2022].

7.  Read, M., 2022. Mapping the celebrity NFT complex. Mapping the celebrity NFT complex – by Max Read. Available at: https://maxread.substack.com/p/mapping-the-celebrity-nft-complex?utm_source=dlvr.it&utm_medium=twitter&s=r [Accessed June 7, 2022].

8.  Hayward, A., 2022. The biggest celebrity NFT owners in the Bored Ape Yacht Club. Decrypt. Available at: https://decrypt.co/86135/biggest-celebrity-nft-owners-bored-ape-yacht-club [Accessed June 16, 2022].

9.  Tiku, N., 2022. Famous women join the crypto hustle, but it could cost their fans. The Washington Post. Available at: https://www.washingtonpost.com/technology/2022/04/06/women-crypto-nft/ [Accessed June 7, 2022].