Merawat dan Memperbaiki Semua yang Rusak

Artikel ini melantamkan bahwa ‘hak untuk memperbaiki’ atau right to repair dapat menonjolkan lebih dari sekadar sebuah kebebasan dan kemampuan memilih dalam memperbaiki perangkat. Lebih lanjut, perbaikan sebenarnya dapat diilhami lebih dalam melalui silsilah hubungan kita dengan perangkat kita, alam, dan manusia lain. Gagasan perbaikan itu sendiri dapat dialihkan sebagai alat kiasan untuk memelihara rasa kepedulian dan berekonsiliasi dengan berbagai macam hal yang rusak—selain perangkat—seperti hubungan sosial antarmanusia dan hubungan manusia dengan alam.

Seperti yang sudah tertera dalam namanya, hak untuk memperbaiki berbicara seputar memberikan konsumen kemampuan dan pilihan untuk memperbaiki perangkat mereka sendiri atau membawanya ke teknisi sesuai dengan pilihan mereka. Pendukung hak untuk memperbaiki berpendapat konsumen seharusnya dapat melakukan apa pun yang mereka inginkan, termasuk memperbaiki, membuka, dan memodifikasi produk yang mereka miliki.[1] Selain itu, mereka juga menuntut agar perusahaan menyediakan akses ke alat dan suku cadang untuk perbaikan produk, atau setidaknya tidak menghalangi ketika individu atau kelompok mencoba mendapatkan akses ke sumber daya tersebut.

Pendukung hak untuk memperbaiki mencatat beberapa praktik anti-perbaikan yang sering dilakukan oleh perusahaan, seperti membatasi akses ke skema produk dan perangkat lunak diagnostik.[2] Menggugat individu atau kelompok yang memodifikasi, membuka, atau memperbaiki produk mereka karena dinilai melanggar kekayaan intelektual.[3] Memanfaatkan kontrak eksklusif dengan pabrik, perusahaan membuat gerai perbaikan independen tidak dapat mengakses suku cadang pengganti.[4] Terakhir, bila memang memungkinkan, perusahaan menjadikan perbaikan sebagai sarana eksklusif mereka dan gerai resmi, alhasil mereka bisa mendikte harga, termasuk menaikkannya.[5] Skema ini terkesan semakin licik karena perusahaan seringkali secara sengaja merancang sebuah perangkat agar rusak dalam kurun waktu tertentu.

Produksi komoditas, sekarang ini dirancang dengan pertimbanganKeusangan Terencana atau Planned Obsolescence (PO). PO adalah sebuah strategi desain industri untuk membatasi umur produk dan membuatnya cepat usang, ketinggalan zaman, atau tidak berfungsi lagi setelah jangka waktu tertentu.[6]  Rivera dan Lallmahomed berpendapat bahwa PO dirancang untuk menciptakan konsumsi secara massal, mereka juga merancang sebuah tipologi dengan mempertimbangkan empat jenis PO[7]:

  1. Keusangan fungsional (functional obsolescence) adalah suatu produk yang menjadi usang karena ada produk baru dengan teknologi dan kegunaan yang lebih baik.
  2. Keusangan psikologis (psychological obsolescence) adalah ketika suatu produk dirancang untuk memicu keinginan untuk membeli lebih banyak atau membeli versi mutakhir dari suatu produk. Keusangan psikologis disinyalir terjadi ketika seseorang merasa membutuhkan dan membeli produk baru, meskipun produk yang lama masih berfungsi dengan baik.
  3. Keusangan sistemik (systemic obsolescence) terjadi ketika suatu produk diubah secara sistematis untuk membuatnya lebih sulit dan lamban untuk digunakan atau membatalkan layanan pemeliharaan produk. Produk dengan keusangan sistemik sebenarnya dapat diperbaiki atau terus berfungsi. Namun, perusahaan “memaksa” konsumen untuk membeli produk baru dengan membuat perbaikan menjadi mahal atau tidak dapat diperbaiki sama sekali.
  4. Keusangan dengan kerusakan (breakdown obsolescence) yang terjadi ketika suatu produk telah digunakan atau berkeja setelah dalam kurun waktu atau siklus penggunaan yang ditentukan. Padahal, produk tersebut bisa saja masih bekerja dengan baik setelah waktu tersebut.

Kendati demikian, dapat disimpulkan bahwa perusahaan memiliki insentif ekonomi dalam membiarkan atau membuat produk mereka lebih rusak, lalu membatasi  opsi konsumen dalam memperbaiki gawai yang mereka miliki, sehingga membuat konsumen membeli produk baru. Selain itu, banyak penelitian menemukan bahwa jenis desain produk seperti ini merusak lingkungan: perangkat yang rusak dibuang, tertimbun di tempat pembuangan, dan produksi perangkat baru menuntut ekstraksi sumber daya alam.[8] Gerakan hak untuk memperbaiki hadir untuk memastikan  konsumen memiliki pilihan dalam proses perbaikan gawai mereka serta memaksa produsen merancang produk yang dapat diperbaiki

Saat ini gerakan hak untuk memperbaiki telah menggait perhatian di Eropa dan Amerika Serikat (AS).[9] Pada Juli 2021, Presiden AS, Joe Biden, mengeluarkan perintah eksekutif yang mengarahkan Komisi Dagang Federal atau Federal Trade Commission (FTC) untuk merancang peraturan baru yang membatasi kemampuan produsen untuk mengekang perbaikan produk secara independen.[10] Pabrikan elektronik dan mereka yang menentang gerakan hak untuk memperbaiki sering berdalih bahwa menyediakan pilihan atau merancang produk mereka untuk dapat diperbaiki justru membahayakan keamanan perangkat dan konsumen. Namun, pakar keamanan menganggap klaim tersebut meragukan. Selain itu, FTC AS melaporkan, “hanya ada sedikit bukti yang mendukung argumen produsen tentang pembatasan perbaikan.”[11]

Ternyata, tersirat dalam ‘hak untuk memperbaiki’ hadir pula konsep yang lebih dari sekadar memperbaiki perangkat; rupanya, hak untuk memperbaiki juga berfungsi sebagai pintu gerbang menuju wacana baru. “Tukang reparasi sejati juga akan memperbaiki sesamanya,” ucap John Goodman dalam serial televisi Community.[12] Melampaui perbaikan perangkat, Wilson berpendapat bahwa terdapat hubungan erat antara cara masyarakat memperlakukan objek materiil dan cara masyarakat memperlakukan orang.[13] Wilson berpendapat bahwa perbaikan adalah bentuk perawatan dan lakon pengetahuan kolektif. Melansir ahli etnografi Fransico Martinez, Wilson mencanangkan bahwa perbaikan mendorong orang untuk tidak meninggalkan benda atau orang lain.[14] Hal ini terjadi karena perbaikan dan kegiatan memperbaiki tidak hanya kegiatan niaga dan tidak hanya terjadi di gerai, baik dilakukan secara independen maupun tidak.

Perbaikan juga dapat dilakukan di dalam lingkup komunitas. Salah satu contohnya adalah Repair Café, yaitu kegiatan berbasis sukarelawan yang terorganisir secara global, dan memberi jasa perbaikan secara cuma-cuma. Relawan Repair Café dapat memperbaiki berbagai perangkat dan gawai, mulai dari peralatan rumah tangga, elektronik, pakaian, sampai sepeda. Repair Café merupakan praksis dari gerakan hak untuk memperbaiki. Mereka melihat perbaikan sebagai kebutuhan sosial, yakni untuk menghemat uang, menghasilkan lebih sedikit limbah, dan mengajari orang—jika tertarik—cara memperbaiki perangkat mereka sendiri.[15]  Karena perbaikan dilakukan di hadapan yang membawa perangkat rusak mereka, Madon menemukan bahwa orang yang mengalami interaksi perbaikan memperoleh pengetahuan baru dan secara refleks berpikir untuk memperbaiki ketimbang membuang. Madon juga menetapkan Repair Café sebagai gerakan anti-konsumerisme, karena niat dan daya tariknya yang membuat orang membeli lebih sedikit barang.

Wakkary dan Tanenbaum berijtihad bahwa terlibat dalam perbaikan, pembugaran, dan menggunakan kembali perangkat kita akan mengarah pada Interaksi Manusia-Komputer yang lebih berkelanjutan.[16] Lebih lanjut, Blanco-Wells berpendapat agar kita menggunakan “perbaikan” sebagai alat kiasan untuk mendorong pemikiran ekologi perbaikan, yakni: berusaha memperbaiki kerusakan yang dipicu oleh efek proses industrialisasi dan mentransformasi cara manusia berdampingan dengan makhluk hidup dan benda mati.[17] Dalam artian, perbaikan yang dimaksud adalah perbaikan perangkat, perbaikan dan pemulihan hubungan antarmanusia seperti kepercayaan yang rusak, dan perbaikan hubungan manusia dengan alam. Kendati demikian, perbaikan tidak boleh berhenti pada tujuan mengurangi jumlah sampah di tempat pembuangan akhir, apalagi sekadar penghematan biaya. Perbaikan harus disandingkan dengan rasa krisis. Terlebih lagi karena, jika ramalannya absah, setelah tahun 2030, waktu hidup manusia dan kondisi Bumi ini sendiri tidak akan bisa diperbaiki lagi.

Untuk mengacapkan, hak untuk memperbaiki dapat berarti lebih dari sekadar pilihan konsumen untuk memperbaiki dan menghemat uang atau bagi gerai perbaikan untuk menghasilkan uang. Hak untuk memperbaiki juga memaksa perusahaan untuk lebih bertanggung jawab dalam mendesain produk mereka. Hak untuk memperbaiki juga menjadi bala bantuan gerakan anti-konsumerisme dan gerakan lingkungan. Melintasi itu, kita juga dipupuk untuk merawat manusia, merawat mesin, dan merawat alam. Menuntut dan dituntut untuk memperbaiki semua yang rusak.

Penulis: Alfredo Putrawidjoyo
Penyunting: Sri Handayani Nasution


[1] iFixit (n.d.) We Have the Right to Repair Everything We Own, iFixit. Tersedia di: https://www.ifixit.com/Right-to-Repair/Intro (Diakses: 21 September 2021).

[2] Hanley, D., Kelloway, C. dan Vaheesan, S. (2021) Fixing America: Breaking Manufacturers’ Aftermarket Monopoly and Restoring Consumers’ Right to Repair. Open Market Institute, h. 37. Tersedia di: https://www.openmarketsinstitute.org/publications/fixing-america-breaking-manufacturers-aftermarket-monopoly-restoring-consumers-right-repair.

[3] Mikolajczak, C. (2020) ‘Apple crushes one-man repair shop in Norway’s Supreme Court, after three-year battle’, Right to Repair Europe, 4 Juni. Tersedia di: https://repair.eu/news/apple-crushes-one-man-repair-shop/ (Diakses: 21 September 2021); Lihat juga Mitchell, S. (2018) ‘Narratives of Resistance and Repair in Consumer Society’, Third Text, 32(1), hh. 56-61. doi:10.1080/09528822.2018.1459110.

[4] Hanley, D.A. (2020) ‘The First Thing a Biden FTC Should Tackle’, Slate, 18 November. Tersedia di: https://slate.com/technology/2020/11/biden-ftc-right-repair-exclusive-contracts.html (Diakses: 21 September 2021).

[5] Chanthadavong, A. (2021) Digital Right to Repair Coalition warns repair monopolies are pervasive and unavoidable, ZDNet. Tersedia di: https://www.zdnet.com/article/digital-right-to-repair-coalition-warns-repair-monopolies-are-pervasive-and-unavoidable/ (Diakses: 21 September 2021).

[6] Bulow, 1986 dalam Rivera, J.L. dan Lallmahomed, A. (2016) ‘Environmental implications of planned obsolescence and product lifetime: a literature review’, International Journal of Sustainable Engineering, 9(2), h.119. doi:10.1080/19397038.2015.109975.

[7] Rivera and Lallmahomed, 2016, hh. 120-121.

[8] Crosby, A. et al. (2019) Design and repair must work together to undo our legacy of waste, The Conversation. Tersedia di: http://theconversation.com/design-and-repair-must-work-together-to-undo-our-legacy-of-waste-119932 (Diakses: 11 September 2021).

[9] The Digital Right to Repair Coalition (n.d.) About, The Repair Association. Tersedia di: https://www.repair.org/aboutus (Diakses: 21 September 2021); Right to Repair (n.d.) ‘What we want’, Right to Repair Europe. Available at: https://repair.eu/what-we-want/ (Diakses: 21 September 2021).

[10] Goode, L. (2021) ‘Joe Biden Wants You to Be Able to Fix Your Own Damn iPhones’, Wired, 9 July. Tersedia di: https://www.wired.com/story/biden-executive-order-right-to-repair/ (Diakses: 21 September 2021).

[11] Klosowski, T. (2021) ‘What You Should Know About Right to Repair’, New York Times; Wirecutter, 15 July. Tersedia di: https://www.nytimes.com/wirecutter/blog/what-is-right-to-repair/ (Diakses: 12 September 2021).

[12] Shapeero, T. (2012) ‘Introduction to Finality’, Community. NBC.

[13] Wilson, K. (2019) Mending hearts: how a ‘repair economy’ creates a kinder, more caring community, The Conversation. Tersedia di: http://theconversation.com/mending-hearts-how-a-repair-economy-creates-a-kinder-more-caring-community-113547 (Diakses: 11 September 2021).

[14] Wilson, 2019.

[15] Madon, J. (2021) ‘Free repair against the consumer society: How repair cafés socialize people to a new relationship to objects’, Journal of Consumer Culture, h. 3. doi:10.1177/1469540521990871.

[16] Wakkary and Tanenbaum dalam Mitchell, S. (2018) ‘Narratives of Resistance and Repair in Consumer Society’, Third Text, 32(1), h. 66. doi:10.1080/09528822.2018.1459110.

[17] Blanco-Wells, G. (2021) ‘Ecologies of Repair: A Post-human Approach to Other-Than-Human Natures’, Frontiers in Psychology, 12, h. 2. doi:10.3389/fpsyg.2021.633737.