- 18/08/2021
- Category: Commentaries ID
Artikel ini menyusuri dinamika penerbitan akademik, khususnya penerbitan jurnal akademik. Argumentasi berakar dari posisi pengetahuan sebagai sumber daya bersama atau lingko (commons). Struktur penulisana dalah sebagai berikut. Pertama, mengilustrasikan kondisi penerbitan akademik seadanya. Kedua, menggambarkan ekonomi-politik penerbitan akademis yang berkaitan dengan penerbitan, distribusi, dan produksi—buruh akademik. Dan ketiga, dengan sederhana menegaskan kembali posisi pengetahuan sebagai lingko dan potensinya.
Baik anda seorang mahasiswa sarjana, master, atau doctoral, dalam STEM atau humaniora, kemungkinan anda akan membaca penelitian yang diterbutkan dalam jurnal akademik yang dimiliki oleh Lima Besar (The Big Five): Reed-Elsevier, Taylor & Francis, Wiley-Blackwell, Springer, dan SAGE.[1] Secara kolektif di semua bidang ilmu pengetahuan, mereka menguasai sekitar 50 persen dari semua jurnal, dalam disiplin tertentu seperti ilmu-ilmu sosial dominasi mereka bisa naik menjadi 70 persen. Oligopoli ini terejawantahkan menjadi keuntungan dan margin keuntungan dalam jumlah yang besar. Misalnya, pada tahun 2017, Elsevier melaporkan keuntungan sebesar £724 juta dengan pendapatan hanya £2 miliar, margin keuntungan sebesar 36 persen—lebih besar dari Apple, Google, atau Amazon.[2]
Orang mungkin akan terkejut dengan jumlah uang yang dihasilkan industri ini, mengingat pasar mereka cenderung niche (khusus; sempit; spesifik)—biasanya hanya dikonsumsi oleh kaum akademisi. Larivière, Haustein, and Mongeon menjelaskan hal tersebut terjadi karena biaya tetap yang tinggi disandingkan dengan biaya variabel yang rendah.[3] Mereka mencatat bahwa sulit untuk menemukan dengan tepat jumlah pengeluaran yang harus dibayarkan lembaga untuk mengakses jurnal-jurnal. Tetapi, fakta menunjukkan bahwa beberapa lembaga termashyur sekalipun harus mempertimbangkan kembali atau bahkan membatalkan langganan mereka.[4]
Pembuatan jurnal akademik terdiri dari persiapan naskah, seleksi dan ulasan, penyuntingan dan tata letak, tajuk rencana, pemasaran, dan gaji serta penyewaan. Dua barang utama, naskah dan ulasan disediakan secara disediakan secara gratis oleh para cendekiawan. Sebagian karena tidak pernah ada model penerbitan akademis—sejak 1665—yang membayar penulis, dan karena dianggap sebagai bagian dari perburuhan akademik mereka. Insentif mereka adalah pengembangan ilmu, prestise, eksposur, dan jabatan.
Oleh karena itu, academia—bukan pelaku akademik per se—juga merubakan bagian dari masalah. Puehringer, Rath, dan Griesebner berpendapat bahwa struktur insentif dalam tatanan akademik me(re)produksi ekonomi-politik penerbitan akademik.[5] Di satu sisi, penghidupan dan kemajuan karier di dunia akademis didasarkan pada kemampuan peneliti untuk menerbitkan karyanya dalam jurnal dengan faktor dampak yang tinggi (impact factor)—biasanya diterbitkan oleh Lima Besar. Dikenal di kalangan akademisi sebagai “terbit atau binasa”. Dan di sisi lain, kondisi tersebut meningkatkan perbedaan relasi kuasa yang mengekang lembaga akademik.
Untuk meringkas, ekonomi penerbitan akademik adalah sebagai berikut: dana publik disalurkan ke lembaga akademik—pusat penelitian, universitas, dan sebagainya. Para peneliti menggunakannya untuk mendanai penelitian mereka. Mereka menulis dan mengulas penelitian secara gratis. Dan penerbit menjual kembali produk ke lembaga yang didanai oleh public. Satu artikel The Guardian menyebutnya sebagai perampokan siang bolong.[6]
Ketika para peneliti mencoba mengadvokasi peraturan untuk membuat penelitian yang didanai publik tersedia untuk diakses oleh public, pembuat kebijakan justru tercengang. “Maksud anda public belum memiliki akses?”[7] Penerbit juga tidak berdiam diri melihat model bisnis mereka dihardik. Mereka melobi pembuat kebijakan untuk tidak atau membalikkan keputusan yang memungkinkan akses public.[8] Mereka juga melobi para professor dan menawarkan mereka sebagai posisi editor yang digaji oleh penerbt, hal tersebut mereka lakukan untuk menjaga status quo dari dalam kalangan akademisi.[9]
Alternatif dari penerbitan di jurnal milik penerbit komersial memang ada. Misalnya, penulis dapat memilih untuk menerbitkan dalam jurnal ‘open access’ (akses terbuka) khusus digital di mana pembaca bebas (mengunduh) membaca dan membagikan karya ilmiah mereka. Bahkan, ada beberapa lembaga yang mendorong atau mewajibkan penelitian yang mereka danai untuk dipublikasikan secara akses terbuka.[10] Namun, akses terbuka bukanlah obat mujarab. Beberapa jurnal memerlukan pembayaran dimuka untuk menutupi biaya umum seperti biaya pemrosesan artikel. Beberapa penulis membayarnya sendiri, biasanya ditanggung oleh institusi yang bersangkutan. Oleh karena itu, tidak semua orang memiliki privelese untuk menggunakan model ini.
Pilihan lain adalah menggunakan layanan yang kurang legal—tetapi tidak spenuhnya tidak etis—seperti Sci-hub dan Library genesis. Mereka mengarsipkan, menampung (hosts), dan menyediakan akses ke artikel jurnal (Sci-hub) dan buku (Library Genesis), secara cuma-cuma. Beberapa menyebutnya situs bajakan, perpustakaan bayangan, atau penyelamt hidup.[11] Penggunanya sebagai besar adalah peneliti dan mahasiswa dari Global South dan lembaga lain yang tidak memiliki dana untuk biaya berlangganan dan buku-buku mahal.[12] Atau masyarakat umum yang tidak memiliki akses ke perpustakaan yang didanai dengan baik dan membeli karya akademis yang mahal.
Contoh-contoh tersebut disinyalir merupakan upaya untuk merancang pengetahuan sebagai sumber daya bersama atau lingko. Hess dan Ostrom dalam bab pengantar mereka melihat lingko pengetahuan sebagai sumber daya yang dimiliki bersama oleh sekelompok orang dan menjadi sasaran masalah sosial.[13] Dengan kata lain, mereka mencoba untuk mencanangkan bagaimana pengetahuan dapat dibagi dalam suatu sistem yang merupakan bagian dari persetujuan sosial. Inti dari argument Hess and Ostrom adalah bagaimana internet, terutama setelah tahun 1995, memahami pengetahuan sebagai sumber daya bersama atau lingko.[14]
Pengetahuan sebagai sumber daya, bagi Hess dan Ostrom perlu dipahami sebagai barang publik.[15] Pengetahuan tidak dapat dikecualikan (non-excludable): pengetahuan dimaksudkan untuk dibaca dan dibagikan, bukan untuk dijaukan dari mata public. Dan, sulit untuk mengecualikan orang dari pengetahuan setelah pengetahuan tersebut ditemukan. Pengetahuan tidak ada tandingannya (non-rivalrous): penggunaan pengetahuan oleh satu orang tidak akan mengurangi kapasitas orang lain untuk menggunakannya.
Dalam linkungan digital di mana biaya penerbitan dan distribusi hampir nol, walaupun belum nol tetapi cukup dekat.[16] Pengetahuan lebih tidak dapat dikecualikan dan tidak dapat ditandingkan dari sebelumnya. Sebelum era digital, di mana penerbit masih melakukan pencetakan dan distribusi berskala besar, mungkin mereka dapat membenarkan biaya langganan yang mahal.[17] Namun, sekarang jurnal sudah dapat diarsipkan dan dibagikan ad infinitum (tanpa batas).
Gagasan pengetahuan ini juga tidak terbatas pada karya akademis atau penelitian, tetapi juga mengacu pada karya kreatif, kearifan lokal, dan sebagainya. Oleh karena itu, untuk menekankan lebih lanjut, pengetahuan sebagai lingko berarti dua hal.[18] Pertama, bahwa pengetahuan itu kumulatif dan dampaknya adalah kemaslahatan umat. Akses ke pengetahuan sekarang akan menghasilkan penemuan pengetahuan di masa depan. Lbeih banyak pengetahuan tersedia, lebih banyak pengetahuan untuk ditemukan. Kedua, merancang penetahuan sebagai lingko dapat membantu menata ulang pemahaman pengetaua yang tadinya adalah keistimewaan ranah akademisi. Kebebasan untuk mengakses dan menciptakan pengetahuan harus tersedia bagi semua orang.
Simpulan, saya telah mengilustrasikan bagaimana struktur penerbbitan akademis saat ini adalah struktur yang mengeksploitasi buruh akademis dalam tujuannya untuk mengakumulasi keuntungan. Dan, bahwa struktur insentif dunia akademik me(re)produksi ekonomi politik yang memberikan penerbit akademik relasi kuasa di atas lembaga akademik. Penerbit akademik akan melakukan apa yang harus mereka lakukan untuk melanggengkan status quo. Tetapi, ada alternatif dari model penerbitan komersial seperti akses terbuka—walaupun tidak sempurna. Akhirnya, saya telah mencanangkan argumen dan potensi pengetahuan sebagai sumber daya milik bersama atau lingko. Untuk terus melumpuhkan pengetahuan adalah mengambil risiko orang-orang belok kiri di hadapan copyright.
Penulis: Alfredo
Penyunting: Amelinda Pandu Kusumaningtyas
[1] MacDonald, F. (2015) These Five Companies Control More Than Half of Academic Publishing, ScienceAlert. Tersedia di: https://www.sciencealert.com/these-five-companies-control-more-than-half-of-academic-publishing (Diakses: 1 Juli 2021).
[2] Buranyi, S. (2017) Is the staggeringly profitable business of scientific publishing bad for science?, the Guardian. Tersedia di: http://www.theguardian.com/science/2017/jun/27/profitable-business-scientific-publishing-bad-for-science (Diakses: 1 Juli 2021).
[3] Larivière, V., Haustein, S. and Mongeon, P. (2015) ‘The Oligopoly of Academic Publishers in the Digital Era’, PLOS ONE. Edited by W. Glanzel, 10(6), pp. 10-12. doi: 10.1371/journal.pone.0127502.
[4] Gaind, N. (2019) ‘Huge US university cancels subscription with Elsevier’, Nature, 567(7746), pp. 15–16. doi: 10.1038/d41586-019-00758-x.
[5] Puehringer, S., Rath, J. and Griesebner, T. (2021) ‘The political economy of academic publishing: On the commodification of a public good’, PLOS ONE. Edited by X. Y. Yang, 16(6), p. 4. doi: 10.1371/journal.pone.0253226.
[6] Monbiot, G. (2018) Scientific publishing is a rip-off. We fund the research – it should be free | George Monbiot, the Guardian. Tersedia di: http://www.theguardian.com/commentisfree/2018/sep/13/scientific-publishing-rip-off-taxpayers-fund-research (Diakses: 1 July 2021).
[7] Schmitt, J. (2018) Paywall: The Business of Scholarship. Tersedia di: https://www.youtube.com/watch?v=HM_nWsdbNvQ (Diakses: 1 July 2021).
[8] Dyer, O. (2019) ‘Academic publishers urge Trump not to demand open access for federally funded research’, BMJ, p. l7064. doi: 10.1136/bmj.l7064..
[9] Germani, F. (2019) The Scientific Publishing Lobby: Why Science Does Not Work, Culturico. Tersedia di: https://culturico.com/2019/05/06/the-scientific-publishing-lobby-why-science-does-not-work/ (Diakses: 14 Juli 2021).
[10] McDowell, Z. J. (2018) ‘Disrupting Academic Publishing: Questions of Access in a Digital Environment’, Media Practice and Education, 19(1), p. 61. doi: 10.1080/14682753.2017.1362173.
[11] See Bodó, B. (2016) ‘Libraries in the post-scarcity era’, in Porsdam, H. (ed.) Copyrighting Creativity: Creative Values, Cultural Heritage Institutions and Systems of Intellectual Property. London: Taylor and Francis. Tersedia di: https://public.ebookcentral.proquest.com/choice/publicfullrecord.aspx?p=4541948 (Diakses: 15 Juli 2021).
[12] See Banks, M. (2016) ‘What Sci-Hub Is and Why It Matters’, American Libraries, 47(6), pp. 46–49.
[13] Hess, C. and Ostrom, E. (2007) ‘Introduction: An Overview of the Knowledge Commons’, in Hess, C. and Ostrom, E. (eds) Understanding knowledge as a commons: from theory to practice. Cambridge, Mass: MIT Press, p. 3.
[14] Hess and Ostrom, 2007, p. 4.
[15] Hess and Ostrom, 2007, pp. 8-9.
[16] McDowell, 2018, p. 59.
[17] Larivière, Haustein and Mongeon, 2015, p. 12
[18] Hess and Ostrom, 2007, p. 8.