Engagement Theatre atau People-Centered?Sekilas tentang Desain Partisipatif untuk Perencanaan Kota Cerdas Ibu Kota Nusantara

Penulis: Christophorus Ariobumi Praditya
Editor: M Perdana Karim

Setelah dirilisnya cetak biru megah Kota Cerdas Ibu Kota Nusantara (IKN), terlihat jelas bahwa banyak teknologi digital yang siap untuk diintegrasikan ke dalam kerangka pengembangan kota. Jaringan telekomunikasi, pusat data, keamanan siber, serta teknologi pendukung kota pintar seperti Internet of Things (IoT), mobil tanpa pengemudi, dan Urban Air Vehicle (UAV), disebutkan berulang kali di seluruh cetak biru tersebut yang mengindikasikan ambisi pemerintah Indonesia untuk mengadopsi teknologi terbaru.1

Namun, partisipasi yang berpusat pada masyarakat terlihat tidak ada meskipun memiliki inklusivitas dan smart citizen sebagai pilar dari kota pintar. Padahal, pembangunan kota pintar tidak hanya tentang bagaimana kita dapat mengintegrasikan berbagai teknologi ke berbagai bagian kota, namun merupakan hal yang lebih kompleks dan berlapis. Hal ini juga menarik hubungan antara pengembangan teknologi, penyertaan sumber daya manusia dan sosial, serta pembangunan yang berkelanjutan.2 Sayangnya, perencanaan kota pintar sering kali mengabaikan aspek sumber daya manusia dan sosial dan lebih memprioritaskan penyebaran dan pengadaan infrastruktur teknologi berskala masif. Ketidakseimbangan ini menggarisbawahi perlunya pendekatan yang lebih holistik yang memberikan penekanan yang sama dalam mendorong keterlibatan masyarakat, kesetaraan sosial, dan pembangunan kota yang berkelanjutan di samping inovasi teknologi.

Salah satu pendekatan yang berpusat pada masyarakat yang sering digunakan oleh perancang kota adalah desain partisipatif. Desain partisipatif adalah metode desain holistik yang memastikan kesesuaian solusi bagi pengguna dalam fase desain.3 Di dalam desain partisipatif, fase perencanaan bertujuan untuk melibatkan sebanyak mungkin pemangku kepentingan yang terkena dampak dari pembangunan kota pintar melalui berbagai cara seperti wawancara, diskusi kelompok terarah, survei aksesibilitas dan kegunaan, atau berbagi umpan balik setelah fase pengujian.

Perpustakaan Kota Oulu, misalnya, telah menerapkan desain partisipatif selama perencanaannya untuk menata ulang perpustakaan dan layanan yang ada menjadi perpustakaan virtual menggunakan teknologi Virtual Reality (VR).4 Berbagai pemangku kepentingan, mulai dari peneliti, pejabat kota, staf perpustakaan, dan pengunjung perpustakaan lintas generasi, terlibat dalam proses lokakarya desain secara berulang untuk meningkatkan dan memperluas konten perpustakaan menjadi lebih menarik dan multi-sensorik. 

Bentuk lain dari desain partisipatif dapat diambil dari aplikasi Täsä, yang bertujuan untuk meningkatkan partisipasi dalam pembangunan perkotaan di kota Turku, Finlandia. Melalui aplikasi ini, warga Turku dapat mengirimkan ide, masukan, dan kekhawatiran mereka mengenai isu-isu perencanaan kota secara langsung untuk menciptakan hasil pembangunan yang lebih berkelanjutan, inklusif, dan responsif bagi kota. 

Desain Partisipatif dalam Ibu Kota Nusantara

Dalam tahap perencanaan IKN, ada beberapa contoh di mana pemerintah Indonesia telah mencoba untuk meningkatkan partisipasi warga dalam pembangunan kota. Forum Millennial Nusantara (FMN) adalah sebuah ruang diskusi yang dibentuk oleh pemerintah Indonesia sejak tahun 2023. Acara ini mempertemukan organisasi kepemudaan dan institusi pemerintah dalam sebuah dialog mengenai pembangunan IKN.5 Namun, diskusi ini berbentuk talkshow yang berpusat pada penyebaran informasi tentang ibu kota baru, bukan dialog dua arah tentang bagaimana warga negara dapat berpartisipasi dalam pembangunan IKN. Selain itu, topik-topik yang dibahas dalam diskusi ini sangat terfokus pada upaya untuk mendapatkan dukungan dari organisasi-organisasi yang diundang dan merasionalisasi pemindahan ibu kota Indonesia ke IKN, yang tidak dapat dikaitkan dengan desain partisipatif dalam perencanaan kota. 

Contoh lain dapat dilihat dari Dialog Nasional Pemindahan Ibu Kota Negara yang mengundang Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), pemerintah daerah, dan akademisi. Namun, dialog ini lebih berfokus pada teknis pemindahan warga ke IKN daripada perencanaan kota IKN itu sendiri.6 Serupa dengan kasus FMN, dialog ini sangat menekankan alasan di balik pemindahan ibu kota negara.  

Salah satu inisiatif yang paling menonjol adalah lokakarya perencanaan kota partisipatif yang mengundang mahasiswa, ibu rumah tangga, pemilik usaha kecil dan menengah, dan pejabat pemerintah. Berkolaborasi dengan Finland Futures Research Center, Universitas Turku, dan UrbanistAI dari Finlandia, lokakarya ini bertujuan untuk memperkenalkan konsep “kota yang layak huni dan menyenangkan” serta mengumpulkan aspirasi dan harapan masyarakat terhadap perencanaan kota untuk mendorong keterlibatan aktif para pemangku kepentingan.7 Selama lokakarya, para peserta mendiskusikan aspirasi masyarakat untuk pembangunan Nusantara, dan kepedulian terhadap lingkungan, serta menggunakan UrbanistAI untuk memvisualisasikan ide-ide mereka. Lokakarya ini dapat dilihat sebagai cara yang tepat untuk desain partisipatif karena melibatkan warga dalam membayangkan ruang sesuai dengan kebutuhan mereka dengan menggunakan kemajuan teknologi sebagai metode untuk mendesain kota mereka. 

Salah satu inisiatif yang paling menonjol adalah lokakarya perencanaan kota partisipatif yang mengundang mahasiswa, ibu rumah tangga, pemilik usaha kecil dan menengah, dan pejabat pemerintah. Berkolaborasi dengan Finland Futures Research Center, Universitas Turku, dan UrbanistAI dari Finlandia, lokakarya ini bertujuan untuk memperkenalkan konsep “kota yang layak huni dan menyenangkan” serta mengumpulkan aspirasi dan harapan masyarakat terhadap perencanaan kota untuk mendorong keterlibatan aktif para pemangku kepentingan.  Selama lokakarya, para peserta mendiskusikan aspirasi masyarakat untuk pembangunan IKN, dan kepedulian terhadap lingkungan, sembari menggunakan UrbanistAI untuk memvisualisasikan ide-ide mereka. Lokakarya ini dapat dilihat sebagai cara yang tepat untuk desain partisipatif karena melibatkan warga dalam membayangkan ruang sesuai dengan kebutuhan mereka dengan menggunakan kemajuan teknologi sebagai metode untuk mendesain kota mereka. 

Meskipun bukan merupakan tema utama, ada beberapa pendekatan yang berpusat pada masyarakat untuk perencanaan kota pintar IKN yang diuraikan dalam cetak biru. Sebagai contoh, Urban Citizen Living Lab bertujuan untuk menyediakan pusat demonstrasi untuk teknologi, kimia dan farmasi, ilmu sosial, serta pusat peralatan dan mesin untuk memfasilitasi inovasi dan eksperimen di lingkungan perkotaan. Inisiatif lainnya adalah membangun Centralized Citizen Reporting System, sebuah sistem di mana warga IKN dapat bertukar informasi dan umpan balik dengan pemerintah.8 

Menuju Kota Cerdas yang Inklusif: Apakah Desain Partisipatif adalah Jawabannya?

IKN merupakan representasi masa depan Indonesia, dengan visi lebih dari satu juta penduduk Indonesia menjadi penduduk tetap pada tahun 2045.9 Pendekatan ini memastikan bahwa teknologi tidak hanya mutakhir tetapi juga dapat diakses dan inklusif, memprioritaskan kegunaan daripada menerapkan teknologi canggih yang mungkin tidak bermanfaat bagi semua orang.

Sebagaimana diilustrasikan di atas, beberapa inisiatif telah diimplementasikan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengembangan IKN. Akan tetapi, di antara inisiatif-inisiatif tersebut, hanya satu yang benar-benar dapat diklasifikasikan sebagai desain partisipatif. Dua inisiatif lainnya terutama mengadopsi pendekatan top-down, yang bertujuan untuk menginformasikan masyarakat tentang IKN daripada secara aktif melibatkan mereka dalam pengambilan keputusan. Sayangnya, pendekatan ini mengarah pada partisipasi warga yang dangkal, yang ditandai dengan partisipasi semu. Meskipun para pemangku kepentingan dapat diikutsertakan dalam diskusi atau konsultasi, masukan mereka seringkali diabaikan atau tidak diintegrasikan secara memadai ke dalam proses pengambilan keputusan. Hal ini melemahkan pengaruh yang sesungguhnya dari para pemangku kepentingan dan menghambat efektivitas upaya untuk mendorong keterlibatan publik yang berarti dalam pembangunan IKN.

Jalan menuju desain partisipatif di kota pintar IKN masih panjang dan berliku. Hingga saat ini, upaya-upaya yang telah dilakukan sebelumnya telah gagal menempatkan diskusi tentang pengembangan kota pintar sebagai inti dari pembicaraan. Dengan sebagian besar infrastruktur digital yang masih terkonsentrasi di Pulau Jawa, menjembatani kesenjangan digital menjadi rintangan yang signifikan dalam mendorong partisipasi warga yang berarti. Selain itu, desain partisipatif menuntut dedikasi dan kepercayaan yang tinggi kepada pemerintah, pengetahuan yang luas, fleksibilitas, dan komitmen dari waktu ke waktu agar efektif, sebuah kualitas yang mungkin tidak selaras dengan perencanaan komprehensif yang diperlukan untuk pengembangan IKN sebagai kota baru. Contoh-contoh desain partisipatif yang berhasil, seperti Perpustakaan Oulu dan aplikasi Täsä, sebagian besar dipengaruhi oleh skala yang lebih kecil dan masyarakat pintar yang lebih matang, sehingga membuat perbandingan dengan tahap pembangunan IKN yang masih dalam tahap awal menjadi tidak sebanding. Sebagai kesimpulan, desain partisipatif memegang kunci untuk merencanakan fasilitas publik secara efektif yang ditingkatkan dengan teknologi pintar di IKN, dengan fokus pada manfaat bagi spektrum masyarakat yang luas, bukan pada pembangunan kota secara keseluruhan.


  1. Government of Indonesia. (2023). Cetak Biru Kota Pintar Nusantara. ↩︎
  2. Caragliu A., Del Bo Ch., Nijkamp P. (2011): Smart Cities in Europe. “Journal of Urban
    Technology”, Vol. 18, No. 2, pp. 65-82. ↩︎
  3. Jakonen, O. (2023). People-Centric and Inclusive Approach to Planning of Smart Cities. CSID Journal of Infrastructure Development, 6(1). https://doi.org/10.7454/jid.v6.i1.1087 ↩︎
  4. Pouke, M. Ylipulli, J., Minyaev, I., Pakanen, M., Alavesa, P., Alatalo, T., Ojala, T. (2018) Virtual Library – Blending Mirror and Fantasy Layers into a VR Interface for a Public Library. MUM ’18, Cairo, Egypt. ↩︎
  5. Sugeng. (2023). Deklarasi Forum Milenial Nusantara perkuat dukungan untuk IKN Nusantara, Media Indonesia, 15 April 2023. Available at: https://mediaindonesia.com/nusantara/574350/deklarasi-forum-milenial-nusantara-perkuat-dukungan-untuk-ikn-nusantara  (Accessed: 15 July 2024). ↩︎
  6. Kementerian Bappenas (2019). Dialog Nasional Pemindahan Ibu Kota Negara: Bappenas Diskusikan Kesiapan Kalimantan Selatan Untuk Menjadi Ibu Kota Baru, Kementerian Bappenas, 15 July 2019. Available at: https://www.bappenas.go.id/index.php/berita/dialog-nasional-pemindahan-ibu-kota-negara-bappenas-diskusikan-kesiapan-kalimantan-selatan-untuk-menjadi-ibu-kota-baru (Accessed 15 July 2024) ↩︎
  7. Humas Otorita Ibu Kota Nusantara. (2021). Otorita IKN Ajak Masyarakat Lokal Bahas Perencanaan Komunitas Kota Nusantara, IKN. Available at: https://www.ikn.go.id/otorita-ikn-ajak-masyarakat-lokal-bahas-perencanaan-komunitas-kota-nusantara  (Accessed: 15 July 2024). ↩︎
  8. Government of Indonesia. (2023). Cetak Biru Kota Pintar Nusantara. ↩︎
  9. CNN Indonesia. (2024). Jumlah Penduduk IKN Diprediksi 1,9 Juta pada 2045. CNN Indonesia, 18 Feb 2024.Available at: https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20240217205050-92-1064051/jumlah-penduduk-ikn-diprediksi-19-juta-pada-2045#:~:text=Kepala%20Otorita%20Ibu%20Kota%20Nusantara,1.911.000%20penduduk%20pada%202045. (Accessed: 20 July 2024). ↩︎