- 09/03/2023
- Category: Press Release
YouTube Channel CfDS, 8 Maret 2023 – Dalam memenangkan simpati calon konsumen serta memperoleh kesadaran publik atas suatu merek, gaya dan strategi periklanan menjadi salah satu kunci. Demi profit dan kontinuitas suatu bisnis, dibutuhkan usaha-usaha pemasaran lewat periklanan yang kreatif, empatik, dan berelasi tinggi dengan keseharian calon konsumen; contohnya lewat storytelling advertisement. Center for Digital Society, bersama dengan Briefer, menilik perihal tersebut lewat Difussion #87 “Storytelling in Business Advertising 101”. Syafrizal, S.I.P., M.A. (Dosen Departemen Ilmu Komunikasi FISIPOL UGM) dan Adi S. Noegroho (Praktisi Komunikasi, Chief Creative Officer Narrada Communications) turut memperkaya diskusi ini. Difussion #87 dimoderatori oleh Riska Gabriella (Social Media Assistant CfDS). Diskusi menarik ini dapat diakses kembali melalui tautan berikut: https://www.youtube.com/watch?v=kiE99uQSsqY.
Storytelling Advertising dari Segi Akademik: Relasi antara Cerita, Iklan, dan Pelibatan Konsumen
Syafrizal, S.IP., M.A. memulai diskusi ini dengan klaim bahwa cerita-cerita (stories) dapat dimanfaatkan untuk menarik hati pelanggan, membangun reputasi perusahaan, dan membingkai imej perusahaan. Menurutnya, storytelling dapat menjadi strategi advertising yang baik, karena cerita dapat ‘melekat’ di dalam hati dan pikiran publik. Dalam konteks bisnis, cerita-cerita tersebut dibangun tak hanya demi mempengaruhi emosi calon konsumen. Namun, masa kini, cerita-cerita justru ditujukan untuk memberikan perubahan serta mendorong calon konsumen agar tertarik membeli suatu produk atau jasa.
Yang paling menantang dari strategi storytelling advertising adalah bagaimana perusahaan dapat mengubah perilaku pembelian menjadi nilai sosial dengan memanfaatkan emosi manusia. Karenanya, storytelling advertising pun menjadi suatu usaha untuk memanusiawikan jenama (humanizing the brand).
Untuk itu, dalam memproduksi storytelling advertisement yang mengikat emosi, suatu iklan harus menghibur, dapat dipercaya (believable), mengedukasi, menciptakan koneksi (relatable), sistematis, mudah diingat, dan mengikuti tren.
Lewat pemanfaatan emosi manusia tersebut, suatu bisnis dapat membuat para calon konsumen merasa ‘dilibatkan’ dalam visi dan misi bisnis. Bisnis dapat membangun hubungan emosional antara perusahaannya sendiri, produk/jasa mereka, dan para konsumen mereka lewat storytelling advertising. “Untuk mencapai tujuan tersebut, maka dibutuhkan pemahaman atas kebutuhan/gagasan konsumen, cerita yang empatik, dan perencanaan media yang matang”, tutur Syafrizal untuk menyimpulkan diskusinya.
Storytelling Advertising Menurut Seorang Praktisi: Brand Story sebagai Kunci Pengenalan Brand Value
Menyambung diskusi yang telah dimulai oleh pembicara sebelumnya, Adi S. Noegroho turut memberikan pandangannya – sebagai seorang praktisi komunikasi – dalam menjalankan teknik periklanan. Sebagai Chief Creative Officer di Narrada Communications, Adi percaya akan pentingnya penggabungan antara gaya komunikasi (dalam periklanan) dan brand story. Kedua elemen tersebut menjadi kunci dari pemroduksian iklan-iklan oleh Narrada Communications.
Brand story dapat dibangun oleh hal-hal yang ada di kehidupan sekitar kita. Hal ini dapat membantu mendorong unsur empati dalam suatu iklan, sehingga publik dapat merasa semakin relate dengan brand story suatu bisnis. Brand story pun penting untuk dipertahankan sepanjang waktu, demi mempertahankan value dari suatu brand. Berangkat dari sana, brand story pun akhirnya dapat mempertahankan kontinuitas dan inovasi periklanan dari suatu perusahaan.
Adi mengakhiri sesi diskusinya dengan pesan bahwa “Tak masalah media periklanan yang digunakan apa, selama sebuah advertisement memiliki brand story yang kuat dan berkelanjutan, maka perusahaan dapat selalu diingat oleh publik dan menarik konsumen”.
Penulis: Allysa Putri Rendry