- 08/03/2023
- Category: Commentaries ID
Penulis: Stanislaus Axel Paskalis
Editor: Alfredo Putrawidjoyo
Teknologi kendali otonom telah memasuki ranah otomotif melalui pasar mobil pribadi otonom. Para pemasar mobil ini pun menjanjikan kenyamanan, keamanan, dan efisiensi dalam berkendara melebihi pengalaman berkendara mobil konvensional.[i] Bayangkan anda bisa duduk di kursi penumpang di dalam sebuah mobil yang bisa mengemudikan dirinya sendiri, tanpa supir yang perlu makan, istirahat, tidur, dan hari libur. Tak heran mobil otonom digadang-gadang akan mengubah dunia transportasi oleh salah satu artikel BBC.[ii]
Namun, layaknya teknologi canggih pada umumnya: kehadirannya membawa harapan, sekaligus kecurigaan dan pertanyaan kritis, seperti: Siapakah yang harus bertanggung jawab jika mobil otonom menabrak seorang anak? Apakah kita harus menerima teknologi ini berkeliaran di jalanan? Jika iya, sesegera apa? Jika tidak, kenapa? Untuk itu, artikel ini menyelidiki berbagai potensi permasalahan yang bisa timbul ketika kita mengadopsi mobil otonom saat ini.
Mobil Otonom dan Kemacetan
Semua orang ingin kemacetan lalu lintas lenyap dari muka bumi, dan mobil otonom seakan hadir sebagai salah satu jawaban dari persoalan tersebut. Sebuah simulasi menunjukkan bahwa keberadaan 10% mobil otonom terobservasi dapat mempercepat arus mobil sebesar 7% dalam grid lalu lintas Manhattan.[iii] Namun, mengasumsikan mobil otonom dapat membantu menghilangkan kemacetan secara keseluruhan sangatlah terburu-buru.
Sebelum semua kendaraan pribadi bisa menjadi otonom, kita harus melalui masa transisi dari berkendara manual (dengan kendali manusia) menuju otonom penuh. Dalam kata lain, mobil otonom perlu mengantisipasi mobil manual yang perilakunya berada di luar koordinasi kecerdasan buatan (artificial intelligence, AI). Sebuah studi[iv] dengan menggunakan situasi lalu lintas dunia nyata menunjukkan bahwa mobil otonom tidak begitu berdampak pada kemacetan. Hal ini karena pengendara mobil otonom menggunakan pengaturan jarak headway antar mobil sejauh mungkin untuk menghindari risiko kecelakaan. Pengaturan headway ini ada di dalam sistem Adaptive Cruise Control (ACC) yang secara otomatis mengurangi kecepatan jika sensor depan mobil mendeteksi kendaraan yang lebih lambat.
Selain itu, kemacetan utamanya terjadi karena tingginya penggunaan kendaraan pribadi. Maka kebijakan yang efektif untuk mengurangi kemacetan adalah yang mampu mengurangi penggunaan tersebut.[v] Masalahnya, jika menggunakan mobil otonom mudah dan nyaman, penggunaan mobil di jalan akan bertambah secara keseluruhan.[vi] Meningkatnya volume kendaraan, ditambah dengan masih adanya mobil manual di masa transisi, membuat kemampuan mobil otonom untuk mengurai kemacetan patut kita pertanyakan.
Siapa yang Menabrak Elaine Herzberg?
Saat itu, Elaine Herzberg sedang mendorong sepedanya melintasi jalan raya di Arizona ketika sebuah mobil otonom milik Uber sedang melakukan uji coba.[vii] Mobil SUV tersebut akhirnya menabrak dan menewaskan Herzberg, menjadikannya korban pertama dari kecelakaan mobil otonom di Amerika Serikat. Sang pengemudi “cadangan” di dalam mobil otonom tersebut akhirnya didakwa oleh hakim Arizona atas tuduhan kelalaian yang menyebabkan kematian. Sementara Uber dinyatakan bebas dari tanggung jawab pidana atas insiden tersebut oleh sang hakim.
Badan Keamanan Lalu Lintas Nasional (NHTSA) Amerika Serikat mencatat setidaknya ada 392 kecelakaan lalu lintas yang melibatkan mobil otonom pada tahun 2022.[viii] Yang pelik dari kasus-kasus kecelakaan mobil otonom adalah menentukan pihak yang sebenarnya bertanggung jawab atas kecelakaan tersebut.[ix] Pengadilan manusia tidak bisa memenjarakan dan menjatuhkan denda kepada sebuah mobil dan AI-nya. Namun Pengadilan bisa menjatuhkan sanksi pada manusia dan perusahaan.
Meskipun demikian, perusahaan bisa saja melemparkan tanggung jawab dengan alasan bahwa sang pengemudi memiliki tanggung jawab penuh atas mobil yang ia kendarai. Namun, hal ini harus memiliki konsekuensi, perusahaan mobil tidak boleh mempromosikan atau memasarkan produk mereka sebagai swakemudi.[x] Selain itu, desain mobil wajib membuat pengendara untuk tetap sadar dan waspada. Misalnya dengan mengharuskan pengendara untuk tetap waspada dan meletakan tangan di roda kemudi ketika mode otonom aktif.
Tetapi bagaimana jika kecelakaan tetap terjadi meskipun mobil telah memberikan peringatan dan pengemudi telah bersikap waspada? Bagaimana jika terdapat malfungsi perangkat lunak seperti yang diungkapkan oleh pengemudi Tesla ketika kecelakaan terjadi di San Fransisco? Sayangnya, saat ini belum ada standar internasional komprehensif yang berlaku untuk meregulasi mobil otonom. [xi]
Kekurangan dalam pemrograman bisa saja terjadi, dan sebuah program komputer dapat menjadi lebih baik seiring waktu, namun potensi kecelakaan akan tetap ada baik karena kelalaian manusia ataupun malfungsi kode. Tapi berbeda dari manusia, kita tidak bisa menuduh robot bahwa ia telah mengemudi sambil mengantuk.
Data dan Penggunaannya
Selain menjual mobil otonom kepada pengguna, perusahaan juga memanen data. Meskipun tak eksklusif pada mobil otonom, dataifikasi mobil berdampak pada isu surveilans dan keamanan informasi pribadi pengendara. Selain cara perusahaan memeroleh data, kita juga harus mengawasi cara mereka menggunakan data dan aktor-aktor yang bisa mengaksesnya.
Teknologi surveilans mobil otonom berarti memberikan cara bagi perusahaan untuk masuk ke dalam ruang-ruang pribadi yang sebelumnya tidak terjangkau oleh mobil konvensional. Mobil otonom dapat memanen data seputar lokasi, gambar lingkungan fisik, keterhubungan jejaring komunikasi, serta data tentang jenis mobil dan pengguna.[xii]
Tersedianya fasilitas multimedia di dalam mobil otonom juga dapat memberikan ruang bagi pengiklan untuk memasarkan produknya dengan sasaran pengguna mobil tersebut.[xiii] Contohnya, perusahaan platform bisa menyediakan ruang iklan[xiv] melalui layar display yang ada di dalam mobil. Melalui pengumpulan data dan potensi tambahan pendapatan melalui iklan, perusahaan platform dan pebisnis otomotif akan menerima banyak manfaat.[xv]
Model bisnis tersebut memerlukan sebuah pengawasan, terutama karena ia memiliki potensi untuk memengaruhi ruang hidup masyarakat. Perusahaan bisa saja menyalahgunakan data tanpa adanya pengawasan dan prosedur akuntabilitas yang ketat. Misalnya perusahaan Amazon yang menyalahgunakan data[xvi] dari para retailer untuk mengembangkan produk yang menyaingi para retailernya sendiri. Paralel dengan itu, perusahaan platform dan otomotif dapat menggunakan data yang mereka kumpulkan untuk mendukung kebijakan yang mendorong urban sprawl dan mempersempit pilihan mobilitas kita.
Dengan adanya dataifikasi otomotif, perusahaan akan memiliki insentif untuk mengumpulkan data. Konsekuensinya, perusahaan akan mendorong sebanyak mungkin orang untuk menggunakan mobil, bahkan secara berlebihan.[xvii]
Menyelesaikan Masalah Mobilitas Melampaui Mobil
Jauh dari ideal, mobil otonom masih memiliki banyak permasalahan. Namun, alih-alih menolak mentah-mentah perkembangannya, alangkah baik jika kita melihat teknologi otonom sebagai salah satu dari sekian alat yang kita miliki.
Mobil adalah alat transportasi yang berguna, namun ia bukanlah obat segala penyakit mobilitas perkotaan. Setiap bentuk teknologi memiliki keterbatasan dalam menyelesaikan persoalan, dan pilihan terbaik kita adalah menggabungkan pilihan-pilihan teknologi yang kita punya. Dalam buku Autonorama, Norton mengajukan kombinasi antara Low-tech, dan Hi-tech dalam mengatasi isu mobilitas kota. Contoh konkritnya adalah sepeda listrik yang dapat kita pinjam melalui teknologi bike-sharing digital.[xviii] Dengan paradigma ini, kendaraan pribadi, manual maupun otonom, bukanlah prioritas dalam perencanaan mobilitas kota.[xix] Laporan t4<2° menunjukkan bahwa kita sudah memiliki alat yang efektif merespon isu mobilitas perkotaan dan krisis iklim secepat mungkin: jalan kaki, sepeda dan bus. [xx] Baru-baru ini, The Economist merilis tulisan tentang tren di kalangan muda yang mulai meninggalkan mobil pribadi dan memilih alternatif lain misalnya transportasi publik.[xxi] Artinya, mobilitas masa depan bukanlah mobil otonom melainkan berjalan kaki, bersepeda, dan naik transportasi publik.
[i] Jack Stilgoe dan Miloš Mladenović, “The Politics of Autonomous Vehicles,” Humanities and Social Sciences Communications 9, no. 1 (3 Desember 2022): 433, https://doi.org/10.1057/s41599-022-01463-3.
[ii] Jenny Cusack, “How driverless cars will change our world – BBC Future,” BBC, 30 November 2021, https://www.bbc.com/future/article/20211126-how-driverless-cars-will-change-our-world.
[iii] Matthew Hutson, “Watch Just a Few Self-Driving Cars Stop Traffic Jams,” 16 November 2018, https://www.science.org/content/article/watch-just-few-self-driving-cars-stop-traffic-jams.
[iv] Eirin Olaussen Ryeng, Eivind Myklebust Lindseth, dan Torbjørn Haugen, “Traffic Flow with Autonomous Vehicles in Real-Life Traffic Situations,” dalam Autonomous Vehicles and Future Mobility (Elsevier, 2019), 33–41, https://doi.org/10.1016/B978-0-12-817696-2.00003-2.
[v] David Metz, “Tackling Urban Traffic Congestion: The Experience of London, Stockholm and Singapore,” Case Studies on Transport Policy 6, no. 4 (1 Desember 2018): 494–98, https://doi.org/10.1016/j.cstp.2018.06.002; Peter Smith, “Controlling Traffic Congestion by Regulating Car Ownership: Singapore’s Recent Experience,” Journal of Transport Economics and Policy 26, no. 1 (1992): 89–95; Dirk Van Amelsfort, “Introduction to Congestion Charging” (China: Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) GmbH, 2015).
[vi] Daniel J. Fagnant dan Kara M. Kockelman, “The Travel and Environmental Implications of Shared Autonomous Vehicles, Using Agent-Based Model Scenarios,” Transportation Research Part C: Emerging Technologies 40 (1 Maret 2014): 1–13, https://doi.org/10.1016/j.trc.2013.12.001; Jonas Meyer dkk., “Autonomous Vehicles: The next Jump in Accessibilities?,” Research in Transportation Economics 62 (1 Juni 2017): 80–91, https://doi.org/10.1016/j.retrec.2017.03.005; Susilawati, “Will Self-Driving Cars Solve Traffic Congestion?,” The Jakarta Post, 18 Februari 2023, https://www.thejakartapost.com/opinion/2023/02/18/will-self-driving-cars-solve-traffic-congestion.html.
[vii] Sam Levin, “Safety Driver Charged in 2018 Incident Where Self-Driving Uber Car Killed a Woman,” The Guardian, 16 September 2020, bag. US news, https://www.theguardian.com/us-news/2020/sep/16/uber-self-driving-car-death-safety-driver-charged.
[viii] Jon Fingas, “NHTSA: ‘Self-Driving’ Cars Were Linked to 392 Crashes in 10 Months,” Engadget, 15 Juni 2022, https://www.engadget.com/self-driving-car-technology-crash-data-172606258.html.
[ix] Kareem Othman, “Public Acceptance and Perception of Autonomous Vehicles: A Comprehensive Review,” AI and Ethics 1, no. 3 (1 Agustus 2021): 355–87, https://doi.org/10.1007/s43681-021-00041-8; Araz Taeihagh dan Hazel Si Min Lim, “Governing autonomous vehicles: emerging responses for safety, liability, privacy, cybersecurity, and industry risks,” Transport Reviews 39, no. 1 (2 Januari 2019): 103–28, https://doi.org/10.1080/01441647.2018.1494640.
[x] Emily Rosenthal, “Who’s Responsible If a Tesla on Autopilot Kills Someone?,” Futurity (blog), 11 Maret 2022, https://www.futurity.org/self-driving-cars-vehicles-laws-2709692/.
[xi] Ken Klippenstein, “Exclusive: Surveillance Footage of Tesla Crash on SF’s Bay Bridge Hours After Elon Musk Announces ‘Self-Driving’ Feature,” The Intercept, 10 Januari 2023, https://theintercept.com/2023/01/10/tesla-crash-footage-autopilot/.
[xii] Luis F. Alvarez Leon, “Eyes on the Road: Surveillance Logics in the Autonomous Vehicle Economy,” Surveillance & Society 17, no. 1/2 (31 Maret 2019): 198–204, https://doi.org/10.24908/ss.v17i1/2.12932.
[xiii] Leon, 201.
[xiv] Chris Peri dkk., “Advertising and the Autonomous Car,” t.t.
[xv] Leon, “Eyes on the Road,” 203.
[xvi] Dana Mattioli, “Amazon Scooped Up Data From Its Own Sellers to Launch Competing Products,” The Wall Street Journal, 23 April 2020, https://www.wsj.com/articles/amazon-scooped-up-data-from-its-own-sellers-to-launch-competing-products-11587650015.
[xvii] Peter Norton, Autonorama: the illusory promise of high-tech driving (Washington, DC: Island Press, 2021).
[xviii] K. N. F. Ku Azir dkk., “UniCycle: An Android Application of Bike Sharing System in the Digital Campus,” Journal of Physics: Conference Series 1755, no. 1 (Februari 2021): 012010, https://doi.org/10.1088/1742-6596/1755/1/012010.
[xix] Abbas M. Hassan dan Hyowon Lee, “Toward the Sustainable Development of Urban Areas: An Overview of Global Trends in Trials and Policies,” Land Use Policy 48 (November 2015): 199–212, https://doi.org/10.1016/j.landusepol.2015.04.029.
[xx] Agora Verkehrswende, Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ), dan World Economic Forum (WEF), “Transport for under Two Degrees – the Way Forward: 10 Key Insights for the Decarbonisation of the Transport Sector,” Transport for under Two Degrees, 2020.
[xxi] The Economist, “Throughout the rich world, the young are falling out of love with cars | The Economist,” The Economist, 16 Februari 2023, https://www.economist.com/international/2023/02/16/throughout-the-rich-world-the-young-are-falling-out-of-love-with-cars.