- 24/12/2022
- Category: Commentaries ID
Penulis: Hilman Nurjaman
Editor: M Perdana Karim
Fenomena perang akhir-akhir ini menjadi isu yang ramai diperbincangkan, tidak hanya dalam ruang fisik negara yang terlibat yaitu Rusia dan Ukraina tetapi juga dalam ruang digital transnasional. Teknologi, internet, dan media digital dapat berpotensi menjadi alat yang memediasi konflik global yang didukung oleh ruang data yang sangat besar dalam membentuk tata kelola negara utama dalam perang [1]. Perkembangan fitur pendukung dari teknologi digital yang membuka ruang kebebasan tanpa batas dalam membagikan peristiwa di media digital, baik dalam bentuk visual, audio, maupun audiovisual, memiliki kekuatan untuk membangun atau merusak pengetahuan kolektif masyarakat. Pengetahuan tentang sejarah yang berkaitan dengan perang di masa lalu adalah hal yang sangat rentan untuk dinarasikan ulang. Dengan demikian, artikel ini membahas tentang bagaimana narasi perang dunia dibagikan, diproyeksikan, dan direproduksi secara bebas dalam media digital oleh pengguna internet di Rusia dan Ukraina, tapi tidak hanya terbatas pada itu.
Bagaimana Perang Dinarasikan dalam Media Digital?
Teknologi digital dalam konteks perang dapat menjadi sarana prediktif yang mengarah pada entitas dan agensi tertentu yang terhubung dalam jaringan yang luas dalam ruang online dan offline di keseharian [2]. Imajinasi konstruksi masa depan yang ditawarkan oleh teknologi digital, makin didominasi oleh kelompok-kelompok perusahaan teknologi yang menyerap kemampuan lembaga publik yang dapat dengan leluasa memperbarui atau mempertahankan retorika-retorika dominan [3]. Pada dasarnya, lembaga media memiliki kesempatan yang lebih besar untuk mengatur ruang digital terhadap produksi pengetahuan tentang dunia yang menandai kategori-kategori yang mendekati ketidakseimbangan atau ketidaksetaraan. Dalam konteks perang Rusia dan Ukraina hari ini, hal tersebut mengarah pada peristiwa Perang Dunia II sebelumnya yang tersedia dan tersebar secara online di platform digital yang sama, tetapi dengan interpretasi yang kemungkinan dapat berbeda. Alhasil, narasi perang dalam media digital akan tertuju pada dua sisi yang bersifat dikotomis: sebagai warisan sejarah peristiwa masa lalu atau menjadi mimpi buruk yang dapat memicu konflik baru.
Sebagai warisan historis dan pengetahuan kolektif
Jangkauan dan kecepatan media digital yang mengalami peningkatan konektivitas merupakan peluang untuk melestarikan sejarah [4]. Momen peristiwa perang yang tersimpan di media digital apalagi dalam bentuk audiovisual seperti video dapat meningkatkan pengalaman masyarakat untuk memperingati sejarah menjadi makin jelas. Misalnya saja dalam lembaga pendidikan, media digital dapat menjadi agen yang mengabadikan sejarah konflik perang dunia yang melahirkan pengetahuan-pengetahuan kritis yang dapat membawa perubahan secara mendasar pada generasi suatu negara dalam cara memahami dan menginterpretasikan konflik tersebut. Begitu pula dalam tanggapan pengguna internet, sejarah perang dapat menjadi alat perlawanan untuk menentang ketidakadilan yang muncul baik secara online maupun offline, terutama ketika suatu fenomena sudah populer secara global [5]. Tren dalam dunia digital saat ini pun dapat mendesak perubahan untuk mempertimbangkan konsekuensi yang mencakup masalah bersama melalui jejaring online yang dengan mudah dapat diakses oleh para pengguna internet transnasional [6]. Meskipun hampir tidak dapat diperdebatkan bahwa konten video sejarah yang disebarluaskan dalam media digital dapat menjaga memori peristiwa untuk memperingati perang, tapi apakah konten tersebut benar-benar untuk tujuan pengetahuan atau dalam kesempatan yang sama dapat memprovokasi narasi perang masa lalu?
Sebagai mimpi buruk yang memicu konflik baru
Dengan mengambil contoh kasus Perang Dunia II antara Rusia dan Ukraina, sejarah masa lalu antara kedua negara tersebut yang diabadikan dalam platform berbagi konten video berpotensi dalam melanggengkan konflik ketika terjadi pemicu dari salah satu negara tersebut atau dari pihak eksternal, sebagaimana konflik tersebut terulang akhir-akhir ini. Dokumentasi yang secara terbuka digambarkan dalam media dapat mengaktifkan perhatian global melalui platform online, salah satunya adalah YouTube. YouTube tidak hanya merupakan platform berbagi video terbesar di dunia, yang dapat digunakan secara bebas oleh pengguna internet baik sebagai penonton atau pembuat konten video, tetapi juga terdapat fitur komentar yang secara bebas dapat menunjukkan respons positif dan negatif terhadap wacana dominan tentang perang Rusia dan Ukraina misalnya.
Konsekuensi dari peristiwa perang masa lalu yang tersebar dalam media digital ini sangat bervariasi dari mulai cara mendokumentasikan kekacauan ketika perang sampai perkembangan perang informasi tentang bagaimana potret peristiwa kekejaman dalam perang berujung pada perasaan traumatis [7]. Media digital telah menjadi ruang yang membingkai penderitaan masa lalu akibat kekejaman perang yang kontroversial sebagai media arus utama dengan menutup diskusi-diskusi yang aman tentang dilema etika [8]. Tentu saja, hal ini menimbulkan benturan etika secara kolektif yang akan memperumit pengguna platform digital tersebut dalam menginterpretasikan sejarah dengan bijak. Pergeseran etika ini memiliki implikasi juga terhadap bagaimana konflik lama di masa lalu kembali dirasakan oleh masyarakat umum melalui intervensi digital [9]. Apalagi ketika sejarah perang dijadikan alat untuk memprovokasi lahirnya konflik baru di masa depan. Oleh karena itu, menjadi sebuah kerentanan baru ketika media digital mempromosikan narasi baru yang memicu praktik perang dengan tanggapan pengguna internet yang saling terhubung dalam mengekspresikan keberpihakan atau ketidakberpihakan melalui ujaran kebencian atau komentar kasar dan agresif.
Lebih jauh, perkembangan media digital akan menjadi kabar buruk ketika konten seperti video digunakan sebagai senjata dalam memperkuat pesan kepentingan yang berujung pada perubahan jalannya sejarah yang terbuka ke berbagai peristiwa di masa depan [10]. Seperti halnya yang dilakukan NAZI Jerman dalam mengendalikan warganya melalui ketakutan yang dipertontonan terus-menerus sebagai bentuk pengawasan, propaganda, dan penolakan akan narasi-narasi lain di samping narasi dominan [11]. Sangat jelas, bahwa peristiwa perang yang dipertontonkan di media digital memiliki sisi yang dapat memprovokasi masyarakat dalam lingkungan fisik secara langsung ataupun tidak langsung sebagai mimpi buruk yang dapat merusak pengetahuan sejarah masa lalu.
Kesimpulan
Teknologi, internet, dan media digital dapat menjadi sarana reflektif sekaligus destruktif yang mengarah pada unit agensi tertentu dalam konteks negara atau dunia. Media digital dapat menjadi sarana mengabadikan momen sejarah yang dimediasi dalam konten audiovisual seperti video dan menjadi sumber pengetahuan antar generasi. Namun, di sisi lain narasi perang dalam media digital dapat menjadi pemicu konflik atas luka-luka traumatis masa lalu yang didistribusikan dalam platform digital secara bebas. Apalagi ketika tidak terdapat persetujuan secara global yang disepakati bersama mengenai batasan yang jelas dalam menggunakan teknologi digital seperti etika universal. Akibatnya, sesuatu yang mungkin hanya merupakan konten yang mengandung kontroversi yang relatif kecil dapat menjadi pemicu konflik baru yang besar pada kurun waktu tertentu.
[1] Peng, B. (2021) ‘Digital leadership: State governance in the era of digital technology’, Cultures of Science, pp. 1–16. doi: 10.1177/2096608321989835.
[2] Grove, W. et al. (2021) ‘Taking togetherness apart: From digital footprints to geno-digital spores’, Human Geography (United Kingdom), 00(0), pp. 1–13. doi: 10.1177/19427786211024264.
[3] Mager A and Katzenbach C. (2020) ‘Future imaginaries in the making and governing of digital technology: multiple, contested, commodified’, New Media & Society, 23(2), pp. 223–236.
[4] Hoskins A. (2009) ‘The mediatisation of memory’. In: Garde-Hansen J, Hoskins A and Reading A (eds) Digital Memories, Basingstoke: Palgrave Macmillan, pp. 27–44.
[5] Culpan, Tim. (2022) Digital warriors come to Ukraine’s aid, declare cyber war against Russia. https://theprint.in/opinion/digital-warriors-come-to-ukraines-aid-declare-cyber-war-against-russia/851373/
[6] Garon, J. M. (2018) ‘Cyber-World War III Origins’, Journal of Law & Cyber Warfare. Available at: https://www.jstor.org/stable/26777962.
[7] Kuntsman A. (2010) ‘Online memories, digital conflicts and the cybertouch of war’. Digital Icons: Studies in Russian, Eurasian and Central European New Media, 4, pp. 1–12.
[8] Makhortykh, M. (2020) ‘Remediating the past: YouTube and Second World War memory in Ukraine and Russia’, Memory Studies, 13(2), pp. 146–161. doi: 10.1177/1750698017730867.
[9] Ibid.
[10] Cullen, Adam. (2022). How digital media could help end the conflict in Ukraine. https://www.aspistrategist.org.au/how-digital-media-could-help-end-the-conflict-in-ukraine/
[11] Diglin, G. (2014) ‘Living the Orwellian Nightmare: New media and digital dystopia’, E-Learning and Digital Media, 11(6), pp. 608–618. doi: 10.2304/elea.2014.11.6.608.