Perkembangan Operator Telekomunikasi di Indonesia dan Permasalahan di Dalamnya: Apakah Penting?

Penulis: Mario Hartanto
Editor: M Perdana Karim

Beberapa waktu lalu, industri telekomunikasi dihebohkan dengan mergernya Indosat Ooredoo dengan Tri, dua pemain besar operator telekomunikasi di Indonesia[i]. Hal ini pun disambut baik dan didukung penuh oleh Kemeterian Komunikasi dan Informasi. Proses bergabungnya operator telekomunikasi bukanlah berita baru di Indonesia. Sebelumnya, XL dengan Axis melakukan merger pada tahun 2014 untuk memperluas jaringannya[ii]. Dapat diprediksi, fenomena ini akan tertus berkembang di masa mendatang, mengingat adanya dukungan dari pemerintah. Mengapa banyak terjadi merger antar operator telekomunikasi? Artikel ini akan mengupas bagaimana operator telekomunikasi beroperasi di Indonesia dan kondisi ideal yang diharapkan.

Q1: Bagaimana perkembangan operator telekomunikasi di Indonesia mempengaruhi layanan telekomunikasi di Indonesia?

Semua bermula dari berlakunya UU No.36 Tahun 1999 tentang Sistem Telekomunikasi yang meningkatkan liberalisasi industri telekomunikasi di Indonesia[iii]. Pasca berlakunya UU tersebut, banyak operator telekomunikasi muncul berjamuran. Bahkan di tahun 2004 operator telekomunikasi di Indonesia sendiri mencapai 11 operator[iv]. Fenomena ini berkaitan dengan adanya pasar kompetitif dimana perang harga terjadi, serta mempengaruhi kualitas layanan telekomunikasi yang ada.

Indonesia memiliki frekuensi radio terpusat untuk menyebarkan jaringan. Frekuensi ini dibagikan dengan banyak operator telekomunikasi lainnya melalui beberapa spektrum. Semakin banyak operator telekomunikasi, berarti semakin kecil spektrum yang didapat oleh setiap operator. Isu inilah yang menjadi faktor penghambat implementasi jaringan 5G di Indonesia[v]. Frekuensi yang semakin banyak turut berdampak pada tingginya biaya akses pembangunan infrastruktur dan peralatan yang mendukung jaringan 5G. Melihat situasi sekarang, Indonesia tertinggal dibanding negara Asia Tenggara lainnya dalam hal kualitas internet seperti Thailand, Malaysia, Filipina, Singapur, dan Vietnam.

Q2: Adakah Model Ideal yang Dapat Diterapkan di Indonesia?

Indonesia, dengan banyaknya jumlah operator telekomunikasi dapat mengevaluasi bagaimana sistem ideal bagi industri telekomunikasi. Satu hal yang perlu diketahui adalah seiring maraknya kompetisi pasar di bidang telekomunikasi, semakin terancam juga kualitas jaringan yang dapat diberikan. Persaingan pada akhirnya tetap dibutuhkan dalam kadar tertentu, agar tidak terjadi monopili dalam perekonomian telekomunikasi.

Dalam usaha mencapai keseimbangan, kita dapat melihat dari bagaimana negara lain dalam meregulasi telekomunikasi. Di Amerika serikat, hanya terdapat tiga operator besar yang mendominasi yakni: AT&T, Verizon, dan T-Mobile[vi] Sedangkan di Hungaria sendiri, hanya terdapat dua operator: Telenore Hungaria dan Vodavone[vii]. Bahkan di negara terdekat kita sekalipun Filipina yang sudah mengadopsi 5G, persaingan hanya diduduki antara Global Telecom dan PLDT[viii].Melihat yang lainnya dan pengalaman yang sudah-sudah, model telekomunikasi ideal kedepannya pun bergantung pada hadirnya lebih banyak proses merger dan akuisisi kedepannya. Menteri Komunikasi dan Informasi Rudiantara mengatakan bahwa harapannya dalam lima tahun kedepan hanya terdapat tiga sampai empat operator telekomunikasi di Indonesia.[ix]

Q3: Bagaimana Model Ideal Telekomunikasi dapat Mempengaruhi Literasi Digital?

Di era dunia serba terkoneksi yang kita tinggali saat ini, nyatanya masih terdapat jurang besar akses internet antar negara dan wilayah.Data dari International Telecom Union (ITU) menunjukkan bahwa pada tahun 2015, hanya 34% rumah tangga di negara berkembang yang mendapat akses internet, lain halnya di negara maju dengan tingkat akses internet 80%[x]. Adanya kesenjangan digital ini juga mempengaruhi bagaimana tingkat literasi digital di Indonesia tidak tersebar secara rata. Maka dari itu, Indoensia membutuhkan implementasi jaringan 5G untuk meningkatkan literasi digital yang ada. Riset menunjukkan bahwa jaringan 5G dapat menghubungkan 3,5 Milyar orang di dunia. Model ideal telekomunikasi dengan operator yang semakin sedikit niscaya akan mempercepat implementasi jaringan 5G karena memberikan banyak alokasi spektrum untuk mendukung infrastruktur yang ada.

Kesimpulan

Indonesia pada kenyataannya memiliki terlalu banyak operator telekomunikasi yang mempengaruhi kualitas internet dalam jangka pendek, juga menghambat perkembangan jaringan 5G dalam jangka panjang. Maka dari itu, merger dan akuisisi ini merupakan langkah yang tepat dan didukung oleh pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informasi untuk meningkatkan kualitas internet. Harapannya, jaringan internet yang lebih baik turut mempengaruhi literasi digital dalam masa mendatang.


[i] Yakti, A. (2022). Hari Ini, Indosat – Tri Resmi Merger jadi Indosat Ooredoo Hutchison. Retrieved February 8, 2022, from Tempo.co: https://bisnis.tempo.co/read/1546239/hari-ini-indosat-tri-resmi-merger-jadi-indosat-ooredoo-hutchison#:~:text=TEMPO.CO%2C%20Jakarta%20%2D%20Per,(H3I)%20atau%20Tri%20Indonesia.

[ii] Panji, A. (2014). XL dan Axis Resmi Jadi Satu Perusahaan. Retrieved February 9, 2022, from Kompas.com: https://tekno.kompas.com/read/2014/04/08/1717055/XL.dan.Axis.Resmi.Jadi.Satu.Perusahaan

[iii] Siagian, P. J., & TItus, A. (2012). ANALYSIS ON THE EFFECTIVENESS OF AXIS MOBILE INTERNET STRATEGY AND IDENTIFICATION OF AREAS FOR FUTURE IMPROVEMENTS. THE INDONESIAN JOURNAL OF BUSINESS ADMINISTRATION, 1(2), 87-92. Retrieved February 2022

[iv] Hutajulu, S. (2020). Two scenarios for 5g deployment in Indonesia. Technological Forecasting & Social Change, 1-11. doi:https://doi.org/10.1016/j.techfore.2020.120221

[v] Admaja, A. F. (2015). Kajian Awal 5G Indonesia. Buletin Pos dan Telekomunikasi, 13(2), 97-114.

[vi] Statista. (2021). Statista. Retrieved February 11, 2022, from https://www.statista.com/statistics/201048/total-operating-revenues-of-us-telecommunication-providers/

[vii] Medve, F. (2021). Statista. Retrieved February 11, 2022, from https://www.statista.com/topics/7510/telecommunications-industry-in-hungary/#:~:text=Telecommunication%20companies&text=Telenor%20Hungary%20and%20Vodafone%20are,in%20the%20Hungarian%20telecommunications%20industry.

[viii] Cluster, L. (n.d.). Retrieved February 10, 2022, from https://dlca.logcluster.org/spaces/flyingpdf/pdfpageexport.action?pageId=33784067

[ix] din/dew. (2022). Kominfo.go.id. Retrieved February 10, 2022, from https://kominfo.go.id/index.php/content/detail/4717/Menkominfo%3A+5+Tahun+Lagi+Hanya+Ada+4+Operator+Seluler/0/sorotan_media

[x] Noll, J., Dixit, S., Radovanovic, D., Morshedi, M., Holst, C., & Winkler, A. S. (2018). 5G Network Slicing for Digital Inclusion. International Conference on Communication Systems and Networks. doi:10.1109/COMSNETS.2018.8328197