How Soon is Now?: Mempersiapkan Infrastruktur Konektivitas untuk Ekosistem Metaverse di Indonesia

Metaverse adalah salah satu teknologi digital yang paling banyak dibicarakan dalam beberapa tahun terakhir. Pengetahuan dan pemanfaatan yang telah berkembang mengenai metaverse telah memulai diskusi mengenai penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Walaupun teknologi metaverse hadir dengan tantangannya sendiri, namun juga terdapat peluang yang akan mendorong transformasi digital lebih pesat lagi. Untuk mengimplementasikan metaverse secara luas, ekosistem yang memungkinkan penerapannya harus disiapkan. Hal ini termasuk kesiapan infrastruktur konektivitas di dalam negeri. Dalam kasus Indonesia, dengan populasinya yang semakin cakap teknologi, merupakan negara target yang tepat untuk pengembangan metaverse. Dengan pemikiran ini, kesiapan infrastruktur Indonesia untuk menerapkan ekosistem metaverse perlu ditelusuri dikarenakan negara ini sedang mempersiapkan diri menuju transformasi digital yang bermakna dan berkelanjutan.

Metaverse untuk Masa Depan: Apa yang Akan Dibutuhkan?

Walaupun teknologi metaverse belum dikembangkan secara maksimal, kita telah melihat variasi dari teknologi landasan metaverse seperti augmented reality (misalnya efek filter pada media sosial) atau virtual reality (misalnya menggunakan perangkat VR). Metaverse tidak hanya akan berkembang untuk tujuan game atau media sosial, tetapi juga untuk digunakan dalam banyak skenario yang berbeda, seperti dalam telemedicine, pengalaman kerja real-time melalui VR atau tujuan pendidikan. Untuk menciptakan dan mengembangkan teknologi yang lebih baik, diperlukan konektivitas yang dikembangkan dengan baik melalui infrastruktur yang cukup. Menurut Meta, ada tiga tugas yang diperlukan untuk mewujudkan metaverse sepenuhnya. Yang pertama adalah mengurangi latensi, dimana dalam metaverse, grafik harus bergerak lebih cepat dan membutuhkan latensi yang lebih rendah. Yang kedua adalah bandwidth simetris, di mana kita dapat membayangkan remote rendering dunia virtual melalui cloud edge atau rendering hybrid. Terakhir, adalah kualitas konten yang konsisten, di mana resolusi konten akan lebih mutakhir dan akan membutuhkan koneksi yang lebih baik untuk terus berjalan pada definisi tinggi.

Berbicara dalam talkshow Meta dan Center for Digital Society sebagai bagian dari acara “road to G20”, Ismail Shah (Kepala Kebijakan Publik Konektivitas dan Akses Asia Pasifik – Meta) menyebutkan ada lima komponen yang dibutuhkan untuk mewujudkan metaverse. Komponen tersebut adalah: 1) pengguna, 2) akses, 3) jaringan ISP, 4) edge/cloud, dan 5) kapasitas bandwidth internasional berupa kabel bawah laut. Lima komponen sebelumnya merupakan inti dari pembangunan ekosistem metaverse. Dan meskipun belum semua komponen tersebut terwujud sepenuhnya di banyak negara, pengembangan setiap komponen sangat dibutuhkan. Hal ini dikarenakan masing-masing komponen membawa manfaat ekonominya sendiri – terlepas dari menggunakannya untuk metaverse atau tidak – seperti mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan lapangan kerja. Meta juga telah berinvestasi dalam pembangunan kabel bawah laut di Eropa dan Asia Pasifik, yang berpotensi berkontribusi lebih dari setengah triliun USD dalam PDB tambahan pada tahun 2024. Investasi ini juga diharapkan dapat menciptakan hingga 3,7 juta pekerjaan baru di kawasan Asia Pasifik . Bagi Indonesia, investasi kabel bawah laut juga akan sangat bermanfaat untuk peningkatan PDB (diprediksi akan meningkatkan PDB negara sebesar $59 miliar secara kumulatif) dan untuk penciptaan lapangan kerja (diharapkan dapat membantu menciptakan hingga 1,8 juta pekerjaan) pada tahun 2025. Ini menunjukkan manfaat yang dapat dimiliki oleh setiap komponen metaverse yang disebutkan di atas bagi negara-negara. 

Kesiapan Indonesia untuk Metaverse: Tantangan dan Solusi

Selanjutnya kita beralih ke pertanyaan seberapa siap infrastruktur digital Indonesia untuk mewujudkan ekosistem metaverse ini? Internet Indonesia masih memiliki ruang untuk perbaikan, karena negara ini menempati urutan ke-46 secara global dan ke-11 diantara 22 negara di Asia dalam Indeks Internet Inklusif (Inclusive Internet Index) tahun 2022 dari Economist Intelligence Unit. Dikatakan bahwa meskipun Indonesia mengalami pertumbuhan dalam kesiapan infrastruktur di urutan ke-13, Indonesia masih menempati urutan ke-45 pada kategori ketersediaan. Kategori ini berkaitan dengan “kualitas dan luasnya infrastruktur yang tersedia dan diperlukan untuk akses penggunaan internet”. Tingkat penetrasi fixed broadband di Indonesia juga masih rendah, yaitu 14,5%. Karena implementasi metaverse membutuhkan jangkauan internet yang cepat, stabil, dan masif, infrastruktur dan inklusivitas digital Indonesia harus lebih dimaksimalkan agar dapat dimanfaatkan oleh seluruh warga Indonesia. 

Ada tantangan lain dalam membangun metaverse di Indonesia. Masalah geografis telah melekat dalam masalah pembangunan infrastruktur digital Indonesia. Indonesia memiliki lebih dari 6.000 pulau yang berpenghuni dan ini mengakibatkan implementasi infrastruktur digital sulit di negara ini. Masalah ini membutuhkan intervensi pemerintah yang terukur, yang dapat berupa regulasi – yang ramah terhadap investasi, memberi ruang bagi kemajuan teknologi yang berarti, dan mendorong efisiensi untuk mewujudkan ekosistem metaverse. Contohnya melalui pembagian infrastruktur antar pemangku kepentingan. Salah satu contoh upaya pemerintah untuk memperkuat infrastruktur digital tanah air adalah melalui proyek Palapa Ring. Proyek yang diluncurkan pada tahun 2019 ini bertujuan untuk menyediakan layanan internet 4G di seluruh nusantara. Ini terdiri dari 35.000 km kabel serat optik bawah laut dan juga 21.000 km kabel darat. 

Tantangan lain berasal dari kebutuhan untuk mendorong bakat dalam negeri untuk mengembangkan teknologi baru. Dengan potensi yang besar, Indonesia seharusnya tidak hanya menjadi pasar target, tetapi juga berpartisipasi aktif dalam penelitian dan pengembangan metaverse. Untuk hal ini, pemerintah dan sektor swasta harus bekerja sama untuk mengembangkan kompetensi anak muda Indonesia mengenai metaverse. Terakhir, untuk menikmati metaverse di masa depan, diperlukan infrastruktur broadband yang kuat. Nies Purwanti, Senior Director Government Affairs Qualcomm International, mengatakan hal tersebut dapat dicapai dengan berinvestasi serat optik di Indonesia. Solusi lainnya adalah dengan perluasan teknologi broadband nirkabel melalui pengembangan 5G dan 5G milimeter wave. Perkembangan teknologi 5G akan memudahkan penerapan dan pengembangan metaverse di tanah air.

Tanggapan Pemangku Kepentingan Terhadap Tantangan Infrastruktur Digital Indonesia

Untuk mengatasi tantangan infrastruktur dalam mengimplementasikan metaverse di Indonesia, telah ada beberapa inisiatif dan tanggapan dari berbagai sektor untuk mengatasi masalah ini. Pemerintah, dikutip dari Juru Bicara Menkominfo, telah mendukung kesiapan infrastruktur digital Indonesia untuk metaverse melalui tiga cara. Pertama melalui pengembangan infrastruktur digital dan talenta digital, fasilitasi ekonomi digital, dan pengembangan pemerintahan digital. Teknologi 5G juga telah dikembangan, dengan 5G kini telah tersedia di 49 kota di seluruh Indonesia. Terakhir, pemerintah membantu mengelola spectrum frequency radio untuk memberi ruang bagi kemajuan teknologi baru dalam waktu dekat melalui latensi yang lebih rendah dan streaming VR tanpa jeda. Dr. Ismail juga menyebutkan bahwa regulasi antara pemerintah pusat dan daerah harus disinergikan. Ia mengatakan bahwa fiberisasi merupakan kunci penting pertumbuhan untuk meningkatkan kualitas infrastruktur digital Indonesia. Respon juga datang dari pihak swasta. Nies Purwanti menjelaskan inisiatif yang diberikan Qualcomm untuk mendukung pengembangan infrastruktur metaverse di Indonesia, seperti kerjasama dengan tech startups melalui “Qualcomm XR Development Platform”, inisiatif pendanaan “The Metaverse Fund”, kursus 5G dan AR untuk mahasiswa, dan membuka lisensi produk teknologi mereka kepada perusahaan yang tertarik. 

Apa tahap berikutnya?

Melihat tantangan yang dapat menghambat kesiapan infrastruktur metaverse di Indonesia, kerjasama antar pemangku kepentingansangat dibutuhkan untuk mengatasi kekurangan tersebut bersama-sama. Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) Muhammad Arif memaparkan tiga langkah yang dapat dilakukan antar pemangku kepentingan, 1) mendorong industri untuk mempromosikan akses internet yang setara, 2) berkolaborasi dengan pemilik teknologi untuk mencari teknologi yang “bijaksana” untuk diterapkan, dan 3) meningkatkan literasi digital untuk meningkatkan produktivitas warga negara. Dari perspektif industri, Ismail Shah menekankan perlunya interaksi dan kolaborasi antar pemangku kepentingan dalam mengikuti praktik terbaik internasional terkait masalah konektivitas. Ia juga menegaskan kembali untuk mengaktifkan komponen ekosistem metaverse di tanah air, sehingga metaverse bisa diadopsi secara bertahap. Dalam pernyataan terakhirnya, Dr. Ismail menjelaskan bahwa Kemenkominfo akan berusaha menjalankan road map konektivitas mereka dan menjalin kerjasama yang lukratif dengan industri. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa membangun infrastruktur internet yang luas dan andal sangatlah penting untuk pengembangan metaverse kedepannya, dan bahwa ada kebutuhan mendesak untuk berkolaborasi antar pemangku kepentingan untuk mewujudkan konsep ini. 

Referensi

G20 presidency of Indonesia (n.d) G20 Presidency of Indonesia – Priority Issues. Tersedia di: https://www.g20.org/idn/g20-presidency-of-indonesia-2/#priorities (Diakses pada: November 4, 2022).

Rabinovitsj, D. (2022) The Next Big Connectivity Challenge: Building Metaverse-Ready Networks, Tech at Meta. Tersedia di: https://tech.fb.com/ideas/2022/02/metaverse-ready-networks/ (Diakses pada: November 4, 2022). 

 Pepper, R. and Narayan, B. (2022) Meta’s subsea cable investments expected to contribute over half a trillion dollars to Asia-Pacific and European economies by 2025, Tech at Meta. Tersedia di: https://tech.fb.com/engineering/2022/02/economic-impact-subsea-cables/ (Diakses pada: November 11, 2022). 

Economic Intelligence Unit (2022) The Economist Intelligence Unit’s Inclusive Internet Index 2022 – Indonesia, The Economist. The Economist Newspaper. Tersedia di: https://impact.economist.com/projects/inclusive-internet-index/2022/country/Indonesia (Diakses pada: November 4, 2022).

Mediana (2022) Penetrasi “Fixed Broadband” rendah, operator Adu Harga murah, kompas.id. Harian Kompas. Tersedia di: https://www.kompas.id/baca/ekonomi/2022/10/25/tingkat-penetrasi-fixed-broadband-masih-rendah-tetapi-operator-memilih-adu-harga-murah (Diakses pada: November 4, 2022). 

Alcatel-Lucent Enterprise (2022) Connecting Indonesia across the seas through digital communication, GovInsider. Tersedia di: https://govinsider.asia/digital-gov/connecting-indonesia-across-the-seas-through-digital-communication/ (Diakses pada: November 4, 2022). 

Medina, A.F. (2020) Indonesia’s Palapa Ring: Bringing connectivity to the Archipelago, ASEAN Business News. Tersedia di: https://www.aseanbriefing.com/news/indonesias-palapa-ring-bringing-connectivity-archipelago/ (Diakses pada: November 4, 2022).

Center for Digital Society (2022) Kominfo & Meta Dorong Kolaborasi Lintas stakeholders Dalam Mendukung Pembangunan infrastruktur digital teknologi metaverse, Center for Digital Society – Universitas Gadjah Mada. Tersedia di: https://cfds.fisipol.ugm.ac.id/2022/10/27/kominfo-meta-dorong-kolaborasi-lintas-stakeholders-dalam-mendukung-pembangunan-infrastruktur-digital-teknologi-metaverse/ (Diakses pada: November 5, 2022).