From Helping Hands to AIs: Masa Depan Mutual Aid di Era Digital Indonesia

            Banyak yang telah memprediksikan bahwa suatu krisis yang tidak dapat dihindari yang akan membawa Indonesia ke kekacauan mutlak akan terjadi di tahun kedua pandemi. Dengan lonjakan kasus COVID-19 yang hampir mencapai angka 40.000, Pemerintah Indonesia mengadakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) untuk mencegah penyebaran virus.[1] Meskipun keputusan tersebut terlihat cocok untuk diterapkan, pemerintah nampaknya tidak belajar dari pengalaman pertama mereka dalam menangani situasi pandemi. Implementasi kebijakan terbukti tidak efektif dalam menjaga kesejahteraan warga negaranya ketika banyak pekerja terkena PHK dan juga UMKM yang sulit untuk memenuhi kebutuhannya.[2] Ironisnya, pemerintah justru belum memberikan bantuan dalam periode perpanjangan PPKM sesuai dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 8 tentang Kekarantinaan Kesehatan. Ditambah dengan skandal korupsi yang berhubungan dengan bantuan sosial, situasi yang sedang berlangsung menyebabkan berkembangnya ketidakpercayaan publik.[3]

            Serangkaian kejadian yang tidak baik ini membuat komunitas lokal dan organisasi sukarelawan di seluruh nusantara mencari berbagai cara untuk membantu sama lain melalui aktivitas seperti mutual aid. Pertama kali diciptakan oleh Peter Kropotkin dalam koleksi esainya Mutual Aid: A Factor of Evaluation, mutual aid diartikan sebagai suatu kerjasama antara komunitas untuk menjamin keberlangsungan hidup mereka. Hal tersebut dilakukan melalui pertukaran timbal balik secara sukarela atas sumber daya dan layanan untuk memenuhi kebutuhan setiap orang dalam komunitas.[4] Karena beroperasi di luar kerangka kerja yang ada, mutual aid berpegang pada prinsip-prinsip kesetaraan dan menghilangkan landasan hierarkis seperti lembaga amal.[5] Dengan demikian, mutual aid mencakup semua aspek masyarakat dan bukan hanya mereka yang dianggap “paling rentan”, terutama kelas menengah yang kali ini paling terpukul dengan diadakannya isolasi mandiri.

            Dengan media sosial dianggap sebagai aspek melekat dalam kehidupan sehari-hari, gerakan sosial termasuk mutual aid beralih ke ranah digital. Menariknya, mutual aid digital di Indonesia sebenarnya sudah ada sebelum munculnya pandemi. Sebagai contoh, di Yogyakarta, grup Facebook terkenal Info Cegatan Jogja telah mengumpulkan dan menyampaikan informasi mulai dari barang-barang pribadi hilang hingga donasi komunitas yang berlangsung sejak inisiasinya pada 2013.[6] Alhasil, apa yang bermula dari platform digital berubah menjadi tindakan nyata yang menciptakan jaringan hiperlokal di mana komunitas lokal dapat mendistribusikan informasi dari berbagai daerah di provinsi tersebut.


            Selain itu, dengan pandemi semakin menyatu dengan kehidupan sekarang, frekuensi penggunaan media sosial juga semakin meningkat sehingga dapat menampung keberlangsungan program-program mutual aid. Salah satunya adalah Bagi Rata, alat distribusi peer-to-peer untuk bantuan finansial bagi pekerja dari berbagai sektor. Platform ini sudah merilis situs web yang memfasilitasi subsidi silang antar warga, Bagi Rata juga memanfaatkan akun Instagramnya untuk mempromosi UMKM, cerita dan testimoni dari para penerimanya, serta laporan donasi mereka sebagai bentuk transparansi. Berbeda dengan platform partai ketiga pada umumnya yang mengumpulkan semua donasi moneter, Bagi Rata justru membiarkan para donatur mengirimkan uang mereka langsung ke para penerima.[7] Hingga 15 Agustus 2021, Bagi Rata telah berhasil menyalurkan donasinya kepada 3.140 pekerja dari 9.808 subsidi silang di seluruh Indonesia.[8]

Gambar 1: Tampilan laman bagirata.id
Sumber: bagirata.id

Di samping itu, penerapan kecerdasan buatan (AI) juga dapat mendukung mutual aid digital untuk lebih menjangkau warga dari berbagai ragam latar belakang. Dengan menggunakan machine learning seperti Analisis Jaringan Sosial, para developers dapat memetakan para simpatisan, donar, dan penerima yang potensial. Ini sangat berguna untuk mendeteksi penerima yang tidak termasuk dalam daftar “rentan”.[9] Contoh dari pemanfaatannya dapat dilihat dari tagar #WargaBantuWarga yang sudah digunakan di berbagai platform media sosial, terutama Twitter, yang dapat membantu mengidentifikasi individu-individu tersebut dan menyebarluaskan informasi ke kluster yang belum terpapar oleh tagar tersebut. Ai juga dapat membantu kelompok mutual aid untuk mengumpulkan data secara mandiri untuk data yang lebih luas, unik, dan terdesentralisasi  karena datanya tidak hanya berasal dari pemerintah. Selain itu, akumulasi dan distribusi data juga dapat dilakukan secara etis melalui perlindungan yang dihasilkan oleh AI.[10] Hal tersebut dilakukan untuk menghargai dan mematuhi prinsip-prinsip etika ketika menyangkut data pribadi yang telah menjadi masalah dalam infrastruktur digital.

            Melihat kembali tren yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir, mutual aid di masa kedepannya akan lebih terintegrasi tidak hanya dengan platform digital, tetapi juga kecerdasan buatan. Apabila pandemi akan berakhir dan banyak platform gulung tikar, proyek sosial kedepannya dapat lebih diperluas di luar jaringan lokal daripada sebelumnya. Misalnya saja, melalui platform yang fokus pada berbagai bantuan, seperti bantuan hukum dan psikologis untuk korban kekerasan dalam rumah tangga.[11] Dengan demikian, walaupun mutual aid konvensional masih relevan, gerakan menolong sesama melalui mutual aid kini mulai banyak dilakukan oleh masyarakat Indonesia di ruang digital yang memperpanjang jangkauan tangan mereka ke berbagai penjuru dunia.

Penulis: Rizka Khairunnisa Herdiani
Penyunting: Amelinda Pandu Kusumaningtyas


[1] Rastika, I., 2021. Kasus Covid-19 Harian Hampir Tembus 40.000 dan Skenario Terburuk yang Disiapkan Pemerintah. Kompas. Available at: https://nasional.kompas.com/read/2021/07/09/09593011/kasus-covid-19-harian-hampir-tembus-40000-dan-skenario-terburuk-yang?page=all [Accessed August 15, 2021].

[2] Jatmiko, B.P., 2021. Melihat Dampak Bagi Pelaku usaha Jika PPKM Skala 4 Terus Diperpanjang. Kompas. Available at: https://money.kompas.com/read/2021/07/22/080511826/melihat-dampak-bagi-pelaku-usaha-jika-ppkm-skala-4-terus-diperpanjang [Accessed August 15, 2021].

[3] Thomas, V.F., 2020. Ironi korupsi Mensos Saat Belum Semua Rakyat Kebagian Bansos R. Apinino, ed. tirto.id. Available at: https://tirto.id/ironi-korupsi-mensos-saat-belum-semua-rakyat-kebagian-bansos-f7RQ [Accessed August 15, 2021].

[4] Kropotkin, P., 1902. Mutual Aid: A Factor of Evolution, Available at: http://theanarchistlibrary.org/library/petr-kropotkin-mutual-aid-a-factor-of-evolution [Accessed August 15, 2021].

[5] Spade, D., 2019. Mutual aid chart. Dean Spade. Available at: https://www.deanspade.net/2019/12/04/mutual-aid-chart/ [Accessed August 15, 2021].

[6] Rasyid, S., 2020. Mengenal Grup Info Cegatan Jogja, Wadah Berbagi Informasi Terbesar di Yogyakarta. merdeka.com. Available at: https://www.merdeka.com/jateng/mengenal-grup-medsos-info-cegatan-jogja-wadah-berbagi-informasi-terbesar-di-yogya.html?page=all [Accessed August 15, 2021].

[7] Anon, 2021. Bagirata. BagiRata. Available at: https://bagirata.id/ [Accessed August 15, 2021].

[8] BagiRata, 2021. Instagram. Available at: https://www.instagram.com/p/CSlnvp-FoDy/ [Accessed August 15, 2021].

[9] Isa, D. & Himelboim, I., 2018. A social networks approach to online Social Movement: Social mediators and Mediated content IN #FreeAJStaff Twitter Network. Social Media + Society, 4(1), p.205630511876080.

[10] Floridi, L. et al., 2020. How to Design AI for social Good: Seven essential factors. Science and Engineering Ethics. Available at: https://link.springer.com/article/10.1007/s11948-020-00213-5 [Accessed August 15, 2021].

[11] Anon, 2021. Tentang Kami. Cari Layanan. Available at: https://carilayanan.com/about/ [Accessed August 15, 2021].