- 05/03/2021
- Category: Press Release
Yogyakarta, 25 Februari 2021 – Di masa pandemi perusahaan pengembang kesehatan (healthtech) Indonesia ditengarai semakin berkembang, baik dari segi pengguna, layanan maupun kolaborasi dengan berbagai pihak. Namun, dengan belum berakhirnya pandemi disertai dengan kondisi ekonomi yang belum stabil, apa tantangan yang dihadapi healthtech untuk berperan dan tetap memperluas layanannya menggunakan jalur nirlaba dan kemanusiaan?
Center for Digital Society (CfDS) berkolaborasi dengan Pusat Kedokteran Tropis, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) Universitas Gadjah Mada mengadakan mini talk show bertajuk “Potensi dan Tantangan Healthtech untuk Program Nirlaba dan Kemanusiaan”. Talkshow yang dilaksanakan secara virtual via platform Zoom ini mengundang enam narasumber diantaranya: Dr. drh Didik Budijanto, M.kes (Direktur P2PTVZ), Dr. Gregorius Bimantoro (Asosiasi Healthtech Indonesia), Daniel Oscar Baskoro, S.kom., M.Sc. (Penggiat ICT), Dr. Suci Wulandari, MPH (Data Centre Specialist UNICEF Indonesia), Eddy Junarsin, PhD, CFP (Peneliti dan Dosen FEB UGM), Arry Lesmana Putra, S.P., M.Si. (UNDP Indonesia) dan Anis Fuad, S.Ked., DEA (Peneliti PKT UGM) sebagai moderator.
Talkshow tersebut dibuka dengan pemaparan kondisi startup kesehatan di Indonesia saat ini. Seperti peningkatan jumlah startup yang muncul di awal tahun 2020, hingga tantangan terbesar yang dihadapi perusahaan perintis kesehatan (healthtech) terkait pendanaan. “Survey yang kami lakukan pada member kami sekitar 70-85% startup masih dalam tahap belum memiliki pendanaan, mendanai sendiri atau sudah didanai namun masih dalam jumlah yang kecil. Kurang dari 5% dari jumlah startup di Asosiasi Healthtech Indonesia yang sudah mendapat pendanaan dari investor besar,” ungkap dr. Gregorius Bimantoro (Asosiasi Healthtech Indonesia) pada talkshow yang yang diselenggarakan pada Kamis (25/2).
Adanya peluang bagi startup healthtech untuk dapat lebih berkembang dan berperan dalam program digitalisasi kesehatan negara kemudian disampaikan oleh Dr, drh Didik Budijanto, M.kes bahwasannya arah pembangunan kesehatan pemerintah Indonesia telah mengarah pada digitalisasi sebagai salah satu bentuk realisasi e-government. Pemerintah berkomitmen untuk terus memberikan dukungan infrastruktur seperti pemerataan jaringan internet dan membuka program kolaborasi serta pendanaan yang dapat dimanfaatkan perusahaan pengembang kesehatan (healthtech) untuk meningkatkan efisiensi dan menjawab tantangan-tangan di dunia kesehatan demi kemaslahatan masyarakat.
Diketahui pemerintah bersama mitra pembangunannya juga memiliki sejumlah program untuk digitalisasi dalam konteks kemanusiaan maupun program pemulihan sektor kesehatan di era pandemi. Salah satunya kerjasama dengan UNDP yang tidak hanya menjadi katalisator pemerintah tetapi disertai dengan solusi secara teknis operasional salah satunya untuk pelaporan informasi data logistik kesehatan melalui website dan aplikasi SMILE.
Mini talkshow ini diadakan sebagai wadah berdiskusi bagi regulator, asosiasi, industri, dan juga akademisi untuk berbagi bersama pelaku startup mengenai pengalaman dan inisiasi kerjasama pentahelix di sektor kesehatan digital Indonesia. Para narasumber berbagi mengenai peluang kerja sama tersebut dari kacamata masing-masing sektor yang diwakili. Selain itu, talkshow ini juga diharapkan dapat menjadi ajang pertukaran ilmu atau pengalaman kepada para peserta.
Dari apa yang telah disampaikan para ahli terkait tantangan dan peluang healthtech ini sangat berhubungan dengan apa yang sedang dipersiapkan oleh tim peneliti E-Malaria Pusat Kesehatan Tropis UGM, yaitu uji coba regulatory sandbox sebagai payung regulasi sektor kesehatan digital Indonesia. Ketua tim, dr. Elsa Herdiana menyampaikan dalam uji coba ini para startup peserta akan mendapatkan pendampingan program inovasi di bidang kesehatan oleh para ahli dari berbagai bidang terkait. Besar harapan para inovator kesehatan digital untuk dapat bergabung mengikuti uji coba, berkolaborasi pentahelix untuk mewujudkan Indonesia yang lebih sehat.