Mengatasi Tantangan Industri Teknologi Indonesia menuju Indonesia Emas 2045

Oleh Theodore Great Sifra Aipassa

Pada Agustus 2020, kita merayakan kemerdekaan Indonesia yang ke-75. Layaknya seorang manusia, Indonesia sudah mencapai tahap lanjut usia. Namun pertumbuhan Indonesia belumlah usai, bahkan momentum besar menanti Indonesia. Misalnya, antara tahun 2030-2045, Indonesia akan mengalami bonus demografi di mana kaum muda akan mendominasi penduduk[1]. Tepatnya, pada tahun 2045, dalam 100 tahun kemerdekaannya, pemerintah telah mencanangkan empat pilar untuk mencapai Indonesia Emas[2]. Selain itu, sebelum tahun 2045 nanti, di 2030, Indonesia diproyeksikan akan menjadi ekonomi terbesar ke-4 tepat di bawah AS[3]. Salah satu industri yang berkontribusi untuk mencapai ruang lingkup ekonomi ini adalah internet. Perekonomian internet Indonesia pada tahun 2018 memilika nilai sebesar $27 miliar, dan pada tahun 2025 perekonomian internet Indonesia diprediksi akan mencapai nilai $100 miliar[4]. Artikel ini akan membahas tantangan masa kini dalam industri teknologi dan startup yang harus ditangani oleh Indonesia untuk mengoptimalkan peluang masa depan yang sudah dekat.

Salah satu pilar yang menopang ekonomi internet Indonesia adalah ekosistem startup. Menurut Badan Ekonomi Kreatif Indonesia, pada 2018 tercatat ada 992 startup dengan lebih dari lima puluh persen diantaranya berada di wilayah Jabodetabek[5]. Para startup tersebut menghadapi lima masalah umum yang sama yaitu kualitas sumber daya manusia, fasilitas, peraturan perundang-undangan, permodalan, dan jumlah pasar atau pelanggan[6]. Artikel ini hanya akan membahas tiga isu awal yang telah disebutkan sebelumnya karena sejalan dengan empat pilar Indonesia 2045. Selain itu, permasalahan modal dan jumlah pasar sudah mulai terselesaikan. Dari sisi permodalan, lebih dari 70 startup mendapatkan pendanaan yang sangat besar setiap tahunnya[7]. Sementara itu, jumlah pasar di Indonesia sangat luas dengan 200 juta penduduk dan dari segi penerimaan terhadap teknologi akan terus berkembang seiring dengan semakin banyaknya masyarakat yang menggunakan teknologi.

Pertama, untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, kita harus mengenali kondisi talenta teknologi Indonesia saat ini. Menurut Bank Dunia, lulusan TIK Indonesia seringkali berada di bawah standar industri, dan antara 2015-2030, terdapat defisit 9 juta pekerja TIK[8]. Untuk menjawab tantangan tersebut, harus ada peningkatan pelatihan dan pendidikan keterampilan TIK baik dari lembaga formal maupun informal. Tidak hanya untuk tenaga kerja masa depan tetapi yang terpenting untuk tenaga kerja yang ada saat ini. Salah satu contoh yang bisa diambil dari luar negeri adalah program Singapore skill future yang bertujuan untuk membekali para pencari kerja dengan keterampilan siap pakai dengan pelatihan 6 hingga 12 bulan yang juga bekerjasama dengan institusi ternama[9]. Persoalan pembangunan manusia juga bertepatan dengan pilar pertama pada Indonesia Emas 2045.

Kedua, masalah fasilitas bagi industri internet dan teknologi di Indonesia harus ditingkatkan dari segi kuantitas dan kualitas. Saat ini masih terdapat ketimpangan infrastruktur internet bahkan listrik di seluruh Indonesia. Hal ini dapat dimaklumi sehubungan dengan kondisi geografis Indonesia yang sangat luas. Namun, untuk mewujudkan Indonesia Emas bagi setiap warga negara, infrastruktur harus menjadi fokus yang tidak terpisahkan. Di era pertama Jokowi sebagai presiden, berbagai proyek infrastruktur besar sedang diupayakan, dan beberapa masih dalam proses direalisasikan pada semester II[10]. Di bidang TIK, Kementerian Komunikasi dan Informatika juga memiliki proyek Palapa Ring yang bertujuan untuk menyediakan serat optik sepanjang 36.000 km di seluruh Indonesia[11].

Terakhir, dari sisi peraturan perundang-undangan, pemerintah harus membuat regulasi untuk mengatur masalah privasi di industri teknologi dan di sisi lain mengurangi birokrasi dalam mendirikan startup atau perusahaan teknologi. Isu privasi menjadi krusial di era 4.0 karena basis industri adalah pada data, dan jika data tidak digunakan dengan baik dapat merugikan masyarakat. Sementara itu, sistem ketatanegaraan Indonesia masih dipenuhi dengan berbagai persyaratan yang akibatnya menghabiskan lebih banyak waktu dan sumber daya.

Secara keseluruhan, Pemerintah Indonesia harus menangani setidaknya tiga masalah yang dibahas dalam artikel ini. Lebih lanjut, dalam melakukan hal tersebut, pemerintah harus bekerjasama dengan para pelaku industri teknologi baik domestik, ekosistem Asia Tenggara bahkan dunia global untuk menjadi pusat teknologi regional di kawasan. Semua ini kemudian akan memperkuat posisi Indonesia untuk merangkul Indonesia emas 2045.


[1] Bappenas, 2017. Bonus Demografi 2030-2040: Strategi Indonesia terkait Ketenagakerjaan dan Pendidikan. Available at: <https://www.bappenas.go.id/files/9215/0397/6050/Siaran_Pers_-_Peer_Learning_and_Knowledge_Sharing_Workshop.pdf> [Accessed 21 Apr. 2019].

[2] Kementerian PPN/Bappenas, 2019. Untuk Menjadi Indonesia Emas 2045, Indonesia Harus Tinggalkan Struktur Ekonomi Kolonial. [online] Available at: <https://www.bappenas.go.id/id/berita-dan-siaran-pers/untuk-menjadi-indonesia-emas-2045-indonesia-harus-tinggalkan-struktur-ekonomi-kolonial/> [Accessed 19 Aug. 2020].

[3] Curran, E., 2019. These Could Be the World’s Biggest Economies by 2030. [online] Available at: <https://www.bloomberg.com/news/articles/2019-01-08/world-s-biggest-economies-seen-dominated-by-asian-ems-by-2030>.

[4] Anandan, R., Sipahimalani, R., Saini, S., Aryasomayajula, S. and Smittinet, W., 2018. e-Conomy SEA 2018: Southeast Asia’s internet economy hits an inflection point. [online] Available at: <https://www.thinkwithgoogle.com/intl/en-apac/tools-resources/research-studies/e-conomy-sea-2018-southeast-asias-internet-economy-hits-inflection-point/> [Accessed 10 May 2019].

[5] BEKRAF, B.E.K.I.-, 2018. Mapping & Database Startup Indonesia 2018. [online] Available at: <https://www.bekraf.go.id/downloadable/pdf_file/1812634-mapping-database-startup-indonesia-2018.pdf>.

[6] Ibid.

[7] Tech in Asia, 2020. Tech in Asia Indonesia – Komunitas Online Startup di Asia. [online] Available at: <https://id.techinasia.com/data-investasi-startup-indonesia-2019-2020> [Accessed 19 Aug. 2020].

[8] The World Bank, 2018. Preparing ICT Skills for Digital Economy: Indonesia within the ASEAN context. [online] Available at: <https://blogs.worldbank.org/sites/default/files/preparing_ict_skills_for_digital_economy-revised_7mar2018.pdf> [Accessed 19 Aug. 2020].

[9] Anon 2020. SkillsFuture – AboutSkillsFuture. [online] Available at: <https://www.skillsfuture.sg/AboutSkillsFuture> [Accessed 19 Aug. 2020].

[10] Choirul, M., 2020. Deretan Proyek Infrastruktur Fantastis Rp 400 T Jokowi 2020. [online] news. Available at: <https://www.cnbcindonesia.com/news/20190817114500-4-92714/deretan-proyek-infrastruktur-fantastis-rp-400-t-jokowi-2020> [Accessed 19 Aug. 2020].

[11] KOMINFO, P., 2019. Sekilas Palapa Ring. [online] Website Resmi Kementerian Komunikasi dan Informatika RI. Available at: <//kominfo.go.id:443/content/detail/3298/sekilas-palapa-ring/0/palapa_ring> [Accessed 31 Aug. 2019].