- 31/07/2026
- Category: Commentaries ID
Penulis: Richardus Krisna Dewandaru
Editor: Ayom Mratita
Industri film dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) selalu diliputi perkara kompleks terkait etika kreativitas dan perubahan teknologi. Belakangan, perkara ini kembali mencapai titik kritis ketika kemiripan mendiang aktor Val Kilmer hendak digunakan dalam produksi film As Deep as The Grave. Menurut sutradara Coerte Voorhees, pihak keluarga aktor pemeran Doc Holiday tersebut telah menyetujui dan sepenuhnya mendukung penampilan pasca-kematiannya menggunakan teknologi generatif [1]. Namun, meski langkah ini sejalan dengan peraturan baru pasca pemogokan Screen Actors Guild – American Federation of Television and Radio Artists (SAG-AFTRA) tahun 2023, publik masih berpandangan skeptis. Apakah peraturan ini cukup untuk mencegah penggunaan kemiripan tanpa izin? Dan lebih mendasar lagi, apakah aktor yang telah tiada masih benar-benar memiliki hak atas penggunaan kemiripan mereka di era citra generatif?
Tak dapat dibantah, penggunaan teknologi AI memang terbukti menyederhanakan fase-fase produksi dan mengurangi kebutuhan biaya. Namun, teknologi ini juga secara signifikan menimbulkan kekhawatiran terkait kepemilikan (ownership) dan hak cipta (authorship). Ketika AI mulai naik daun, banyak perusahaan besar berbondong-bondong memberi mesin ini berbagai macam data sebagai bekal untuk menghasilkan karya seni, video, hingga audio [2]. Seniman menyatakan bahwa data-data yang digunakan dalam pelatihan generator AI ini tidak hanya berasal dari domain publik, tetapi juga karya seni yang dilindungi oleh hak cipta [3]. Kita dapat berkaca pada kasus Greg Rutkowski, illustrator Polandia yang namanya telah digunakan dalam perintah atau prompt AI sebanyak 93.000 kali. Ketika ia mencari karya seni dengan namanya di internet, muncul banyak lukisan yang bahkan ia tidak ketahui [4]. Situasi ini mengarah pada hilangnya kepemilikan sebagaimana banyak karya digunakan untuk penciptaan seni generatif tanpa persejutuan pembuatnya. Dengan demikian, batasan antara apa yang dianggap benar-benar ‘kreatif’ dan apa yang hanya berupa remix atau sintesis kian abu-abu.
Perkara teknologi generatif AI kemudian melebar lebih dari sekadar lukisan. Perkembangan deepfake dan teknologi sintetis lain yang mampu menciptakan kemiripan digital hyper-realistic juga semakin memanaskan kekhawatiran yang telah timbul. Kemajuan teknologi tersebut memungkinkan siapa pun, bahkan mesin generatif, untuk menjadi sumber yang mengendalikan aspek wajah seseorang dan memasukkannya ke dalam video lain dengan visual yang realistis [6]. Teknologi hyper-realistic mungkin bermanfaat untuk menggantikan ketidakhadiran seseorang dengan persetujuan. Namun, ini juga dapat memicu upaya-upaya untuk menciptakan keberadaan seseorang yang bertentangan dengan keinginan mereka [7].
Ketika tiba pada perkara penampilan aktor-aktor dalam film, televisi, dan media berbasis visual lain, etika kian menjadi persoalan. Bahkan jauh sebelum lahirnya teknologi hyper-realistic AI, wajah dan kemiripan aktor selalu menjadi permasalahan rumit. Kita bisa melihat kembali pada kasus Crispin Glover, aktor Back to the Future (1985) yang menggugat Universal Pictures karena menggunakan kemiripannya lewat aktor Jeffrey Weissman dengan riasan tebal [8]. Kini, kemiripan tidak berhenti pada perkara make-up, tetapi merupakan aset digital yang dimiliki industri. Pertanyaan soal siapa sebenarnya yang memegang hak atas produk akhir yang terkait dengan setiap kontribusi meluas ke ranah hukum properti dan pengakuan nilai artistik. Bahkan meski dengan persetujuan dan kolaborasi, para aktor mungkin masih menghadapi kemungkinan ketika industri media menggunakan kembali, mengubah, atau bahkan mengkomersialkan kemiripan tanpa sepengetahuan mereka sekaligus mengambil keuntungan darinya untuk selamanya.
Persoalan ini semakin meningkat saat industri film berupaya ‘membangkitkan’ aktor yang telah meninggal ke layar lebar. Kasus yang paling terkenal kita temukan dari Peter Cushing, aktor saga Star Wars yang wafat pada 1994, tapi kemudian muncul kembali lewat Rogue One: A Star Wars Story (2016) karya Gareth Edwards. Keputusan ini sontak memicu kontroversi, sebab Peter sendiri sempat menentang penggunaan kemiripannya melalui efek digital beberapa tahun sebelum kematiannya [11]. Tiga tahun berselang, reaksi negatif lain mencuat ketika legenda Hollywood James Dean, yang meninggal dunia di tahun 1955, hendak ditampilkan dalam film tentang Perang AS di Vietnam pada 2019 melalui full-body Computer Generated Imagery (CGI) [12]. Meskipun keluarga mendiang aktor sepenuhnya mendukung, persoalan etis masih menjadi bayang-bayang karena dinilai semakin merusak hak-hak orang yang telah meninggal. Langkah ini merujuk pada US Second Restatement of Torts atau Pernyataan Ulang Hukum Perdata di AS yang menyatakan bahwa penindakan hukum untuk pelanggaran privasi orang yang telah meninggal tidak lagi dapat dilakukan, sebagaimana orang yang bersangkutan tidak lagi bisa menyuarakan atau mengalami kerugian apa pun terkait pelanggaran tersebut [13]. Secara singkat, hak kepemilikan seseorang musnah ketika orang tersebut meninggal. Hak-hak ini, yang termasuk juga kepemilikan akan kemiripan, dikumpulkan oleh industri sebagai bagian dari ‘komoditas inti’ [14].
Keputusan-keputusan niretika industri kemudian mendorong para aktor, penulis, dan pekerja dunia hiburan lain untuk turun ke jalan dan memobilisasi aksi mogok SAG-AFTRA yang fenomenal pada Juli hingga November 2023. Tujuan utama gerakan ini adalah untuk menjaga kreativitas manusia tetap diletakkan sebagai pusat perhatian produksi, memaksa studio untuk memperioritaskan konten buatan manusia dengan penggunaan konten buata AI berada di bawah kendali penulis kreatif alih-alih studio [15]. Dalam lanskap persoalan besar terkait integrasi AI dan destabilisasi yang dibawanya, pemogokan secara khusus menyoroti penggunaan kemiripan melalui replikasi digital yang dikenal sebagai Employment Based Digital Replicas (EBDR) dan Independently Created Digital Replicas (ICDR). EBDR merupakan citra yang dihasilkan dengan partisipasi aktor, menggunakan pemindaian atau teknologi terkait lainnya. Sementara itu, ICDR adalah replikasi digital yang diproduksi secara independen dengan materi atau aset yang telah dimiliki.
Menurut peraturan pasca-pemogokan SAG-AFTRA, penggunaan kemiripan dalam EBDR harus dibekali persetujuan aktor yang hendak ditampilkan. Aktor akan dibayar untuk proses pemindaian awal, jumlah hari kerja secara luring, dan pembayaran residual dari siaran ulang atau penggunaan kembali di media. Sementara dalam kasus ICDR, ketentuan persejutuan lebih longgar. Aktor perlu menegosiasikan pembayaran atas penampilan residual per kasus [16]. Secara keseluruhan, persetujuan aktor menjadi poin penting utnuk menggunaan kemiripan di masa depan. Dalam kasus penampilan pasca-kematian, studio kini diwajibkan untuk meminta izin dari ahli waris masing-masing untuk menggunakan rekaman atau aset digital yang tersisa dalam proyek-proyek mendatang.
Meski dianggap sebagai perkembangan penting dalam upaya pelestarian kesenian manusia, peraturan pasca-pemogokan belum menjawab pertanyaan etis tentang langkah ‘mempekerjakan kembali’ orang yang telah meninggal. Hal ini perlu dibaca secara kritis melalui lensa tenaga kerja spektral,yakni bagaimana orang yang telah meninggal dipaksa untuk bekerja kembali melalui data yang disimpan oleh sekelompok ‘dalang’ [17]. Sebutan ‘dalang’ digunakan untuk menyebut beberapa pihak yang mengendalikan ‘sisa-sisa digital’ sosok individu, seperti studio-studio yang memiliki sejumlah besar arsip biometrik untuk produksi dan perizinan di masa mendatang. Perngarsipan biometrik lantas mengubah makna dari seni itu sendiri. Apa yang semula dikenal sebagai pertunjukan langsung, kini tereduksi menjadi tenaka kerja tanpa tubuh yang dapat digunakan kembali dan diekstraksi [18]. Alih-alih melestarikan hak atas karya orang yang telah meninggal, peraturan tersebut malah memosisikan dirinya sebagai kendaraan bagi industri untuk memanen lebih banyak lagi dari orang-orang yang telah meninggal.
Pengabaian hak-hak mendiang agaknya turut berdasar dari fakta bahwa sebagian besar hak publisitas di AS sendiri masih merujuk pada Pernyataan Ulang Hukum Perdata di AS. Karena mendiang dianggap tidak lagi mampu mengalami kerugian apa pun, maka hak-hak mereka secara tidak langsung turut diberangus. Iklim hukum ini juga diperkuat oleh peraturan mengenai hak milik di AS. Saat ini, hak kepemilikan pasca-kematian atau postmortem rupanya belum mampu membedakan antara hidup dan mati, sebagaimana publisitas properti mereka masih diperlakukan dengan cara yang sama dengan milik orang-orang yang masih hidup [19]. Meski beberapa negara bagian telah mengakui hak milik pasca-kematian dan terlindungi dari komersialisasi lanjut, sebagian besar undang-undang ini masih gagal untuk memahami bahwa kematian adalah makna yang mengubah lanskap moral dan hukum.
Regulasi pasca-pemogokan juga rentan terhadap teknologi AI yang berkembang dengan begitu cepat. Meski perlindungan dasar untuk komersialisasi artistik telah disetujui, perjanjian ini masih belum mampu mengatasi masalah dalam jangka panjang [20]. Ketika seni buatan manusia dan generatif AI semakin terintegrasi, regulasi pasca-pemogokan masih belum bisa mengikuti perkara kolaborasi kepengarangan AI. Di bawah hukum AS, karya asli yang bisa dilindungi oleh undang-undang hak cipta adalah karya yang diciptakan oleh tangan dan pemikiran manusia [21]. Oleh karena itu, pada kasus Val Kilmer serta aktor-aktor lain yang telah meninggal, situasi menjadi membingungkan: apakah penampilannya kembali akan menghormati Kilmer atau hanya teknologi yang digunakan atas namanya [22]. Replikasi sintetis dengan demikian menyinggung persoalan yang lebih luas mengenai kepribadian, warisan, dan kepengarangan emosional yang justru menempatkan pekerja kreatif salam “situs kerentanan digital” [10].
Secara mendasar, ‘menghidupkan kembali’ aktor yang telah meninggal dalam bentuk replika digital selalu mendatangkan persoalan etis. Kritik terhadapnya jauh melampaui masalah penghargaan (credit) dan pengaturan keuangan. Penampilan pasca-kematian berbasis AI tanpa persetujuan secara langsung dari setiap aktor yang bersangkutan sejatinya merampas kepemilikan dan hak cipta kreatif mereka. Keputusan ini bertentangan dengan hak atas privasi yang seharusnya menjadi bagian dari setiap orang, bahkan setelah mereka tiada. Val Kilmer, seperti halnya aktor-aktor lain yang telah meninggal, menghadapi keadaan ketika mereka kehilangan kendali atas penampilan dan citra mereka sendiri. Kemajuan mungkin telah dicapai, tetapi ini masih beum cukup untuk secara hukum menentang eksploitasi karya seni oleh industri terhadap seseorang setelah kematiannya. Regulasi setelah pemogokan SAG-AFTRA masih cenderung berfokus pada akomodasi komersialisasi lebih lanjut, ketimbang pelestarian hak privasi orang yang telah meninggal. Iklim hukum secara umum tampaknya tidak memiliki ketertarikan untuk membedakan kehidupan dan kematian.
- Lang, B. & Tangcay, J 2026, ‘Val Kilmer Resurrected by AI to Star in ‘As Deep as the Grave’ Movie – First Look (EXCLUSIVE)’, Variety, 18 March, viewed 11 May 2026, (https://variety.com/2026/film/news/val-kilmer-ai-film-as-deep-as-the-grave-1236691042/).
- Jackson, S 2024, AI Ramifications: An Exploration of the Good and Bad of AI: Making sense of generative AI and its impact both positively and negative on all aspects of our daily lives.
- Piskopani, A.M., Chamberlain, A. and Ten Holter, C 2023, ‘Responsible AI and the arts: The ethical and legal implications of AI in the arts and creative industries’, In Proceedings of the first international symposium on trustworthy autonomous systems, 48, pp. 1-5, viewed 8 June 2026, (https://doi.org/10.1145/3597512.3597528)
- Benzine, V 2022, ‘A.I. Should Exclude Living Artists From Its Database,’ Says One Painter Whose Works Were Used to Fuel Image Generators’, Artnet, 20 September, viewed 8 June 2026, (https://news.artnet.com/art-world/a-i-should-exclude-living-artists-from-its-database-says-one-painter-whose-works-were-used-to-fuel-image-generators-2178352
- Liu, J., Niu, Y., Jia, Z., Wang, R 2023, ‘Assessing the Ethical Implications of Artificial Intelligence Integration in Media Production and Its Impact on the Creative Industry’, MEDAAD, 2023, pp. 34-40. https://doi.org/10.70470/MEDAAD/2023/005
- Meskys, E., Kalpokiene, J., Jurcys, P. and Liaudanskas, A 2020, ‘Regulating deep fakes: legal and ethical considerations’, Journal of Intellectual Property Law & Practice, vol. 15, no. 1, pp. 24-31, viewed 9 June 2026, (https://ssrn.com/abstract=3497144)
- De Ruiter, A. 2021, ‘The Distinct Wrong of Deepfakes’, Philosophy & Technology, vol. 34, no. 4, pp.1311-1332, (https://doi.org/10.1007/s13347-021-00459-2)
- Gardner, E 2015, ‘Back to the Future II” From a Legal Perspective: Unintentionally Visionary’, The Hollywood Reporter, 21 October, viewed 8 June 2026, (https://www.hollywoodreporter.com/business/business-news/back-future-ii-a-legal-833705/)
- Chen, O 2025, ‘The Intersection of AI and Filmmaking: Creative Opportunities and Ethical Challenges’, International Journal of Arts, Humanities & Social Science, vol. 6, no. 3, pp. 13-16, (https://doi.org/10.56734/ijahss.v6n3a2)
- Mukherjee, D. & Gao, Y 2026, ‘Synthetic Faces in a Real Industry: How AI-Generated Deepfakes Challenge Actors’ Ownership of Likeness in the Film & TV Industry?’, In The 59th Hawaii International Conference on System Sciences. (https://doi.org/10.24251/HICSS.2026.016)
- Schräer, F 2024, ‘Disney in court over CGI resurrection of deceased Star Wars actors’, Heise online, 12 September, viewed 8 June 2026, (https://www.heise.de/en/news/Disney-in-court-over-CGI-resurrection-of-deceased-Star-Wars-actors-9865481.html).
- Singh, A. 2019, ‘Casting James Dean in a movie is about more than consent – we need to talk about the dwindling ethics of AI’. Independent, 9 November, viewed 12 May 2026, (https://www.independent.co.uk/voices/james-dean-finding-jack-ai-cgi-ethics-hollywood-a9196251.html)
- Roberts, R.J 2023, ‘You’re only mostly dead: protecting your digital ghost from unauthorized resurrection’, Federal Communications Law Journal, vol. 75, no. 2, pp. 273-296.
- Vyas, B 2022, ‘Ethical implications of generative AI in art and the media’, International Journal For Multidisciplinary Research, vol. 4, no. 4, pp 1-11. (https://www.ijfmr.com/)
- Hüsmen, H. A. 2024, ‘AI in The Creative Industries: Strikes, Debates, and Implications’, 0th International Symposium of Communication in the Millennium. (https://www.researchgate.net/publication/387368228_AI_in_the_Creative_Industries_Strikes_Debates_and_Implications)
- William Fry, 2024, ‘Considerations for the Entertainment Industry after the SAG-AFTRA Deal’, William Fry, 18 January, viewed 14 May 2026. (https://www.williamfry.com/knowledge/considerations-for-the-entertainment-industry-after-the-sag-aftra-deal/).
- Divon, T. and Pentzold, C 2025, ‘Artificially alive: An exploration of AI resurrections and spectral labor modes in a postmortal society’, New Media & Society, pp. 1-22. (https://doi.org/10.1177/14614448251397518)
- Putta, S.K. 2025, ‘The Death of the Actor and the Resurrection of the Dead: AI, Cinema, and the end of Embodied Performance’, Hipertext.net, vol. 31, pp. 41-53. (https://doi.org/10.31009/hipertext.net.2025.i31.05)
- Bartholomew, M. 2024, ‘A right to be left dead’, California Law Review, vol. 112, no. 5, (https://digitalcommons.law.buffalo.edu/journal_articles/1245)
- Kurubuni, C.S 2026, ‘Creativity in Crisis? A Study of AI’s Disruption of the Creative Production Process in Hollywood’, International Journal of Research and Scientific Innovation, vol. 12, no. 10, pp. 3392-3411, (https://dx.doi.org/10.51244/IJRSI.2025.1210000295)
- Rodriques Law, n.d, ‘Who Owns AI Generated Content? When Copyright Law Meets Creative Technology’, rodriqueslaw, viewed 8 June 2026, (https://rodriqueslaw.com/blog/who-owns-ai-generated-content-copyright-law/)
- Davis, C. 2026, ‘Can AI Performance Win an Oscar? Val Kilmer’s Digital Resurrection is Forcing Hollywood to Create New Awards Rules’. Variety, April 20, viewed 14 May 2026. (https://variety.com/2026/film/awards/ai-oscars-val-kilmer-awards-rules-acting-1236726156/).