- 24/11/2025
- Category: Press Release
Yogyakarta, 13 November 2025 — Center for Digital Society (CfDS) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menyelenggarakan Digital Future Discussion (Difussion) edisi ke-129 sebagai bagian dari rangkaian Fisipol Research Week 2025. Acara ini menghadirkan paparan hasil penelitian terbaru dari para peneliti muda CfDS yang mengangkat beragam fenomena digital yang semakin membentuk kehidupan sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat Indonesia.
Digelar di Selasar Barat Fisipol UGM, Difussion #129 menjadi platform bagi publik untuk memahami dinamika ekosistem digital yang berkembang cepat. Dengan dua segmen utama, yakni Youth & Digital Culture serta Digital Transformation & Community, acara ini mengajak peserta untuk melihat lebih dekat bagaimana teknologi memengaruhi keseharian generasi muda hingga struktur masyarakat yang lebih luas. Dalam segmen pertama, para peneliti muda CfDS mendiskusikan peran teknologi dalam memfasilitasi keseharian anak muda hingga membentuk cara mereka berpikir, bekerja, dan memahami diri sendiri. Segmen ini dibuka dengan paparan Aisya Sabili yang membahas bagaimana praktik penimbunan digital atau digital hoarding merupakan refleksi cara generasi muda memaknai identitas dan memori di era digital. Segmen dilanjutkan oleh Hosea Immanuel yang menelusuri faktor-faktor pembentuk minat investasi digital pada Gen Z, antara lain kepercayaan terhadap platform, persepsi kemudahan, dan ekspektasi keuntungan. Segmen pertama ditutup dengan paparan Muhammad Ilyan mengenai persepsi mahasiswa UGM yang positif, tetapi hati-hati terhadap teknologi Kecerdasan Buatan (AI). Segmen ini dipandu oleh Achmed Faiz, peneliti CfDS, sebagai moderator.
Segmen kedua mendiskusikan lebih lanjut dampak transformasi digital terhadap komunitas dan masyarakat luas. Segmen ini dibuka oleh Luthfi Baihaqi yang mendalami fenomena perdukunan digital atau digital shamanism di media sosial yang telah membuka ladang baru bagi praktik-praktik spiritual. Segmen dilanjutkan oleh Ayom Mratita yang menyoroti kerentanan pengemudi ojek online di Jakarta dan Gunung Kidul akibat algoritma platform. Terakhir, segmen ditutup dengan paparan Rizaqi Ashari mengenai perkembangan narasi soal kendaraan listrik di media sosial, baik dari sisi masyarakat maupun perusahaan. Segmen kedua ini dimoderatori oleh Arsya Lay, peneliti CfDS.
Melalui Difussion #129, CfDS UGM menegaskan komitmennya sebagai pusat kajian yang terus menghadirkan riset berbasis bukti untuk memahami dinamika transformasi digital di Indonesia. CfDS berharap diskusi ini tidak hanya memperkaya wawasan publik, tetapi juga menjadi landasan bagi pembuat kebijakan, pelaku industri, dan masyarakat untuk merumuskan strategi yang inklusif dan berkelanjutan dalam menghadapi masa depan digital.
Penulis: Azzallea Ega Riesta Christsanda
Penyunting: Dhivana Anarchia Ria Lay