Gelaran Seri 90°DigiTalk Kedua

Dua minggu setelah gelaran diskusi publik pertama, Center for Digital Society (CfDS) kembali menyelenggarakan diskusi publik dwimingguan bertajuk 90°DigiTalk atau DigiTalk. Gelaran DigiTalk kali ini kemblai mengambil tema seputar TIK, namun lebih berfokus pada industri sektor TIK, dan implikasi sosialnya. Dua pembicara yang diundang adalah Prof. Dr. Tadjuddin Noer Effendi, dosen jurusan Ilmu Sosiologi FISIPOL UGM, dan pemerhati isu ketenagakerjaan, serta Prof. Dr. Tri Widodo, ketua jurusan Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM. Namun sayangnya, Prof. Tri Widodo berhalangan hadir, sehingga diwakilkan oleh Amirullah Setya Hardi, Ph.D. Sesi DigiTalk kali ini terbilang cukup sukses, dengan jumlah peserta lebih dari 40 orang.

    Sesi pertama mendatangkan Prof. Tadjuddin yang membawakan tema industri TIK dan permasalahan pengangguran pemuda. Prof. Tadjuddin berangkat dari fenomena pengangguran pemuda yang secara global sedang mengalami peningkatan yang signifikan dan mengkhawatirkan. Padahal, mengutip pidato Ban Ki-Moon, pemudan merupakan agen perubahan yang kreatif dan penuh antusias. Indonesia kini sendiri sedang menikmati bonus demografi, 67.3% dari keseluruhan populasi Indonesia merupakan penduduk usia produktif, di mana 25% dari angka tersebut adalah remaja/pemuda (15-24 tahun). Namun, 40% dari pemuda/remaja di Indonesia merupakan pengangguran, di tengah-tengah era digital yang menawarkan berbagai peluang kerja yang berbasis TIK. Lapangan pekerjaan berbasis TIK sendiri memberikan peluang yang sangat luas, dengan perkiraan dampak terhadap ekonomi nasional negara-negara berkembang sebesar 71%. Potensi ekonomi ini dapat dikatakan dapat menjadi salah satu solusi bagi permasalahan pengangguran pemuda, terutama setelah Presiden Joko Widodo mengumumkan komitmennya untuk meningkatkan kapasitas infrastruktur TIK Indonesia. “Dengan mulai munculnya banyak industri0industri startup di Indonesia, seharusnya kesempatan ini dapat dimaksimalkan sebaik mungkin oleh para pemuda”, ujarnya.

     Pembicara kedua, Dr. Amirullah, memberikan paparan teoretis dan sangat mendetil tentang peluang leapfrogging Indonesia dari menuju industri jasa, terutama jasa TIK. Dr. Amirullah memberikan pengantar teoretis mengenai bagaimana konsep leapfrogging menjadi sudut pandang yang mulai menarik perhatian dalam konteks pembangunan ekonomi. Secara garis besar, industri jasa Indonesia sedang berkembang pesat, walaupun apabila dibandingkan dengan negara-negara lain, perkembangan industri TIK Indonesia masih tertinggal. Lebih lanjut lagi, ternyata insutri TIK di Indonesia pun, walaupun sedang berkembang dengan sangat pesat, masih lebih rendah kontribusinya terhadap keseluruhan pemasukan nasional, di bawah sektor jasa konstruksi serta jasa hotel dan restoran. “Yang perlu digarisbawahi adalah bahwa Indonesia, disadari atau tidak, memiliki kemampuan dan sumber daya yang dapat dikatakan cukup dalam konteks penggunaan internet, terutama apabila dilihat kontribusi sektor ini secara keseluruhan. Namun produktivitas aktivitas dalam jaringan masyarakat Indonesia tentunya harus ditingkatkan. Ada harapan untuk dapat leapfrog ke sektor industri TIK.” ujarnya.