Refleksi Keterampilan Literasi dan Pendidikan Indonesia di Era Digital: Analisis Hasil PISA 2022

Penulis: Hilman Nurjaman
Editor: Achmed Faiz Yudha Siregar

Perkembangan teknologi digital telah menjadi momentum penting dalam transformasi berbagai aspek kehidupan masyarakat terakhir ini. Penggunaan teknologi digital tidak hanya terbatas sebagai sarana untuk mencari informasi, melakukan interaksi dengan orang lain, atau melakukan transaksi keuangan, melainkan telah menciptakan perubahan dalam cara mengakses dan mengolah informasi sejak usia mereka masih sangat muda.1 Oleh karena itu, dalam era yang serba digital, masyarakat dihadapkan pada tuntutan untuk memiliki keterampilan literasi yang komprehensif, baik literasi secara fisik maupun digital, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Hal ini mendapatkan dukungan kuat dari agenda internasional, khususnya sejak PBB meluncurkan “Decade of Literacy” pada tahun 2015, yang menargetkan pembebasan warga global dari buta huruf.2 Awalnya, literasi dipahami sebagai keterampilan dasar untuk mengolah dan memahami informasi dalam kegiatan membaca dan menulis. Namun, seiring dengan perkembangan teknologi, pemaknaan terkait literasi telah berkembang menjadi keterampilan untuk menavigasi, mengevaluasi, dan menggunakan informasi secara efektif dan bijak, dan mengalami perluasan makna secara digital.3 Keterampilan literasi digital menjadi keterampilan penting untuk membekali generasi mendatang untuk dapat berpartisipasi dalam masyarakat digital secara produktif dan bertanggung jawab. 

Dalam upaya mengukur keterampilan literasi pada tingkat global, Programme for International Student Assessment (PISA), yang dioperasikan oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), memainkan peran kunci. PISA melakukan asesmen rutin setiap tiga tahun sekali untuk menilai keterampilan literasi siswa berusia 15 tahun dalam bidang matematika, membaca, dan sains.4 Fokus utama penilaian ini adalah untuk mengetahui seberapa tinggi tingkat keterampilan siswa dalam memecahkan masalah, berpikir kritis, dan berkomunikasi secara efektif. PISA 2022, misalnya, melibatkan sekitar 690 ribu siswa dari 81 negara, memberikan wawasan tentang bagaimana pendidikan dan latar belakang sosio-ekonomi dalam satuan negara memiliki asosiasi dengan pencapaian literasi siswa.5

Hasil PISA Indonesia terbaru mengalami penurunan 

 Sumber:  https://oecdch.art/a40de1dbaf/C108 

Hasil PISA 2022 yang dipublikasikan pada Desember 2023 menunjukkan bahwa Indonesia berada di peringkat rendah dengan skor 359 untuk membaca, 366 untuk  matematika, dan 383 untuk sains, dibandingkan dengan skor rata-rata OECD pada skor 476 untuk skor membaca dan sains dan 472 untuk skor matematika. Dibandingkan dengan hasil tahun 2018, skor ini menunjukkan penurunan, dengan skor terendah yang pernah tercatat sejak Indonesia berpartisipasi dalam penilaian PISA. Selama periode 2018 hingga 2022, kesenjangan antara 10 persen siswa dengan skor tertinggi dan 10 persen siswa dengan skor terendah memberikan gambaran penurunan dalam matematika, sementara relatif tidak mengalami perubahan signifikan dalam membaca dan sains.6 Sementara itu, sangat sedikit siswa di Indonesia yang mencapai level 5 atau lebih tinggi dalam keterampilan membaca, yang melibatkan pemahaman terhadap teks panjang, konsep abstrak, dan kemampuan membedakan antara fakta dan opini dengan konten atau sumber informasi, dibandingkan dengan rata-rata OECD sebesar 7 persen.7 Hasil ini menggarisbawahi tantangan besar yang dihadapi oleh sistem pendidikan di Indonesia, sehingga diperlukan upaya yang lebih intensif dan terkoordinasi untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Selain itu, kesenjangan yang signifikan antara siswa antar negara secara global menyoroti perlunya pendekatan yang lebih inklusif dan adil dalam menyediakan sumber daya pendidikan, terutama mereka yang berasal dari latar belakang sosio-ekonomi yang kurang beruntung. 

Kesenjangan akses teknologi sebagai tantangan dalam pendidikan literasi di era digital

Begitu pula, gambar dari PISA 2018 di atas menyoroti perbedaan akses terhadap teknologi yang signifikan, rata-rata siswa di negara-negara OECD memiliki akses terhadap komputer dengan koneksi internet sebanyak 89 persen. Hal ini kontras dengan Indonesia, Maroko, dan Filipina yang kurang dari setengah siswa memiliki akses terhadap komputer yang bisa mereka gunakan untuk pekerjaan sekolah di rumah.8 Kondisi ini mencerminkan salah satu dari banyak tantangan yang dihadapi oleh negara-negara dengan sumber daya terbatas dalam memberikan dukungan pendidikan yang memadai. Siswa di negara-negara dengan akses terbatas terhadap teknologi cenderung memiliki kesempatan pembelajaran yang lebih terbatas, misalnya dalam akses sumber daya digital, kursus daring, atau materi pembelajaran interaktif yang tersedia bagi siswa di negara dengan infrastruktur teknologi yang lebih tinggi. Maka tidak heran, apabila siswa yang tidak terbiasa dengan penggunaan teknologi digital cenderung memiliki kesulitan dalam merespons perkembangan zaman dalam mengembangkan keterampilan digital untuk memenuhi kebutuhan. Oleh karena itu, penting untuk mengurangi kesenjangan pendidikan dan memberikan peluang yang lebih setara bagi semua siswa untuk memiliki pencapaian yang tinggi.

PISA juga melaporkan bagaimana siswa dari berbagai negara memiliki capaian dalam keterampilan untuk membedakan fakta dan opini serta menilai kredibilitas sumber yang merupakan komponen penting dari literasi. Di beberapa negara seperti Australia, Britania Raya, dan Amerika Serikat, lebih dari 60 persen siswa menunjukkan performa kerja yang lebih tinggi dalam aspek pemisahan fakta dan opini dan penilaian kredibilitas sumber informasi, sementara di Indonesia, Maroko, dan Filipini, kurang dari 20 persen siswa menunjukkan kemampuan tersebut. Keterampilan membedakan fakta dan opini serta menilai kredibilitas sumber menjadi salah satu kemampuan penting bagi siswa untuk dapat mengelola informasi secara valid dan terhindar dari misinformasi. Hal ini juga menegaskan pentingnya pengajaran yang efektif dalam menilai kredibilitas sumber informasi sebagai bagian dari literasi digital.9 Perubahan dalam cara siswa mengakses dan mengkonsumsi informasi juga mencerminkan pergeseran dari media tradisional ke media digital. Saat ini, siswa cenderung membaca lebih banyak dalam format digital seperti obrolan, berita daring, dan pencarian informasi praktis, dan lebih jarang membaca buku fisik, majalah, atau koran.10 Keterampilan menyalin informasi yang valid dan dapat dipercaya ini menjadi makin penting dalam arus informasi yang berlimpah dan beragam agar menjadi pengguna yang cerdas dan bertanggung jawab. 

Perlunya reformasi pendidikan yang responsif pada era digital 

Hasil PISA 2022 yang menunjukkan skor rendah untuk Indonesia menggambarkan sejumlah masalah struktural dalam sistem pendidikan, terutama berkaitan dengan infrastruktur dan fasilitas digital. Selama pandemi Covid-19, misalnya, ketika pembelajaran jarak jauh menjadi mode pembelajaran baru, siswa di negara-negara OECD melaporkan bahwa mereka jarang mengalami masalah dalam belajar jarak jauh dan tidak mengalami masalah dengan akses internet dan perangkat digital.11 Sebaliknya, di Indonesia, kekurangan infrastruktur yang memadai di sekolah-sekolah berkontribusi secara signifikan terhadap hambatan dalam pembelajaran, serta memengaruhi kualitas pendidikan secara keseluruhan.12 Selain itu, penelitian lain mengungkapkan bahwa banyak sekolah di Indonesia menghadapi tantangan infrastruktur dasar, seperti ketersediaan air bersih dan sanitasi, fasilitas komputer, dan pasokan listrik yang stabil.1314 Kekurangan ini tidak hanya menghambat penggunaan teknologi dalam pendidikan tetapi juga membatasi peluang pembelajaran secara lebih luas.

Dalam konteks ini, rendahnya skor PISA bukan hanya mencerminkan kesenjangan dalam kemampuan akademis tetapi juga menyoroti perlunya reformasi yang responsif terhadap tantangan zaman dalam sistem pendidikan pada era digital. Reformasi yang diperlukan mencakup pemerataan infrastruktur pendidikan untuk memastikan akses yang merata terhadap sumber daya pembelajaran dan pembaharuan kurikulum yang menekankan pengembangan keterampilan kritis dan adaptasi terhadap teknologi informasi yang berkembang pesat, keduanya adalah kompetensi penting pada era digital. Keberhasilan reformasi ini akan sangat tergantung pada sejauh mana kurikulum nasional dapat diselaraskan dengan standar penilaian seperti yang digunakan dalam PISA.15 Standar tersebut tidak hanya mengukur pengetahuan dasar tetapi juga kemampuan siswa untuk menerapkan pengetahuan tersebut dalam situasi yang nyata dan kompleks yang lebih relevan dengan tuntutan global.

PISA tidak hanya berperan sebagai alat evaluasi, hasil yang ada merupakan sumber daya penting untuk dipertimbangkan oleh pembuat kebijakan dalam merumuskan strategi memperbaiki dan meningkatkan kualitas pendidikan. Dengan menggunakan data dan analisis yang dihasilkan oleh PISA, pemangku kepentingan dapat memetakan langkah-langkah reformasi yang ditujukan untuk menyiapkan siswa agar tidak hanya berhasil dalam sistem pendidikan tetapi juga dalam menghadapi tantangan di masa depan, terlebih perubahan teknologi yang sangat cepat seperti kemunculan kecerdasan artifisial, kebutuhan akan adaptasi menjadi makin mendesak. Dengan memahami implikasi dari hasil PISA, diharapkan Indonesia memiliki peluang untuk mengimplementasikan perubahan strategis yang tidak hanya akan meningkatkan kinerja dalam evaluasi global tetapi juga, yang lebih penting, meningkatkan kualitas dan relevansi pendidikan bagi seluruh siswa.

Kesimpulan

PISA mewakili sebuah inisiatif global yang menekankan pada pengukuran dan perbandingan kemampuan siswa di berbagai negara. PISA bertujuan untuk memberikan pandangan luas dan mendalam tentang kekuatan dan kelemahan sistem pendidikan di setiap negara yang berpartisipasi dalam mengidentifikasi area perbaikan dan inovasi dalam pendidikan. Hasil PISA terbaru menunjukkan bahwa Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikannya. Skor rendah dalam matematika, membaca, dan sains menjadi masukan yang sangat berharga untuk mengevaluasi dan meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia, misalnya infrastruktur dan fasilitas pendidikan, reformasi kurikulum dari tingkat sekolah dasar, menengah, hingga tinggi, optimalisasi sistem asesmen, dan memastikan pemerataan kualitas pendidikan di seluruh daerah yang kontekstual dengan perkembangan teknologi digital saat ini.


  1. Danby, S. J., Fleer, M., Davidson, C., & Hatzigianni, M. (Eds.). (2018). Digital Childhoods. Technologies and Children’s Everyday Lives. Singapore: Springer. ↩︎
  2. Janjic, Watrich and Vera. (2009) The Cambridge Handbook of Literacy by Olson, D.R. and Torrance, R. (Eds), Journal of Educational Research, 55, 4. ↩︎
  3. Sparks, J., Katz, I. and Beile, P. (2016). Assessing digital information literacy in higher education: a review of existing frameworks and assessments with recommendations for next-generation assessment, ETS Research Report Series. ↩︎
  4. OECD. (2023). PISA Results: Factsheets – Indonesia. ↩︎
  5. Donne, N. (2014). European Variations in Socioeconomic Inequalities in Students’ Cognitive Achievement: The Role of Educational Policies. European Sociological Review, 30, 329-343. https://doi.org/10.1093/esr/jcu040 ↩︎
  6. OECD. (2023). PISA Results: Factsheets – Indonesia. ↩︎
  7. Ibid. ↩︎
  8. OECD. (2023). PISA 2022 Results (Volume II): Learning During – and From – Disruption, PISA, OECD Publishing, Paris, https://doi.org/10.1787/a97db61c-en. ↩︎
  9. Ibid. ↩︎
  10. OECD. (2021). 21st-Century Readers: Developing Literacy Skills in a Digital World, PISA, OECD Publishing, Paris, https://doi.org/10.1787/a83d84cb-en. ↩︎
  11. OECD. (2023). PISA 2022 Results (Volume II): Learning During – and From – Disruption, PISA, OECD Publishing, Paris, https://doi.org/10.1787/a97db61c-en. ↩︎
  12. BPS. (2020). Potret Pendidikan Indonesia. ↩︎
  13. Mardita, N. (2019). Pengelolaan Sarana Dan Prasarana Pendidikan Untuk Meningkatkan Kualitas
    Pembelajaran. https://doi.org/10.31227/osf.io/pa4r5  ↩︎
  14. Karon, A. J., Cronin, A. A., Cronk, R., & Hendrawan, R. (2017). Improving water, sanitation, and hygiene in schools in Indonesia: A cross-sectional assessment on sustaining infrastructural and behavioral interventions. International Journal of Hygiene and Environmental Health, 220(3), 539–550. https://doi.org/10.1016/J.IJHEH.2017.02.001 ↩︎
  15. Wu, L.Y. (2010) Applicability of the Resource-Based and Dynamic-Capability Views under Environmental Volatility. Journal of Business Research, 63, 27-31. http://dx.doi.org/10.1016/j.jbusres.2009.01.007  ↩︎